Monday, November 26, 2007

The Exotic Bromo Mt.











Sebenarnya malu juga mau nulis tentang gunung Bromo ini. Bukan apa2 sih, tetapi sebagai orang Jawa Timur dan sampai seumuran seperti ini saya baru sekali pergi kesana dan itupun baru sebulan yang lalu waktu libur Lebaran.

Setelah check-in di Bromo Cottage, siang menjelang sore itu saya dan anak2 jalan2 di halaman belakang. Pas saat itu para petani sedang panen wortel dan sayuran kubis/ kol, sehingga momen itu kita manfaatkan untuk berbelanja sayur sekalian. Model tawar-menawarnya sih seperti di pasar tradisional; satu kilo berapa pak? Boleh kurang tidak? Mau beli berapa kilo sih? And so on…and so on gitu….
Tapi, giliran membungkus barang, pak tani itu ternyata tidak punya timbangan, jadi akhirnya ya model kira2 saja (dan kayaknya mereka sudah terbiasa dengan model kira2 itu; he..he… mudah2an timbangannya tidak kurang J). Yang pasti - ini setelah kita coba di rumah – sayur kubisnya sangat renyah dan wortelnya ada rasa manis. Sehat banget!

Yang juga dapat kita nikmati adalah pesona aneka bunga yang jarang dapat kita temukan di kota. Baik dari jenis bunga yang baru maupun bunga yang sama tetapi mempunyai warna yang cerah dan lebih menarik.

Esok paginya pukul 03.45 kita kumpul di lobby dengan pakaian yang serba brukut. Kaos dalam rangkap tiga ditambah kaos sweater tebal, ditambah lagi jaket tebal plus tutup kepala ala orang kutub sono. Tidak lupa juga kaos kaki dan kaos tangan yang tebal. Secangkir teh panas yang kita nikmati pagi itu rasanya belum bisa menghangatkan badan yang menggigil.

Kata petugas hotel, pagi ini suhunya sekitar 9 drajat Celcius dan ini saat yang baik untuk melihat Bromo, karena bulan2 Desember – Januari biasanya suhunya lebih jahat hingga mencapai minus – belum lagi ditambah angin yang dipastikan tidak ramah.

Sekitar pukul 04.05 kita berangkat menggunakan jip ‘4-wheel drive’ yang memang menjadi kendaraan khusus untuk acara pendakian itu. Selain ketrampilan mengendarai mobil, pengenalan medan jalan sungguh sangat penting disini, karena kalau tidak bisa2 kendaraan kita bukannya naik tapi malah ‘nglondor’ turun he..he… Saran saya, kalau tidak yakin jangan bawa kendaraan MPV biasa deh, apalagi sewaktu di medan pasir, takutnya mobil slip dan banyak terselip pasir2 di mesin mobil.

Nah, pesona pertama adalah di Penanjakan Mount. Ada serombongan wis-dom berlogat Jakarta, yang mulutnya terus berdecak dan kemudian berbisik ke anaknya: “ Coba kokomu ikut…Ini tidak kalah dengan Swiss”

He..he.. saya jadi mikir, memang Swiss hebat ya? Saya memang sudah pernah lihat pegunungan Alpen yang kesohor itu, tetapi gambarnya doang…

Ketika terpana dengan pesona didepan, tiba2 orang-orang pada ribut dan teriak2: Sun-rise…sun-rise, ….cepat…. dari sini” Saya jadi ikut2an mencari posisi yang pas untuk menikmati matahari terbit dan bisa mengambil gambarnya. Momen fantastis yang hanya tidak lebih dari 5 menit itupun serasa membekas panjang di ingatan….

Setelah dari Gunung Penanjakan, kita turun dan menyusuri “Sea of Sand” dan saat seperti inilah kendaraan Jip-4 Wheel Drive mengambil peran. Dengan gagah menerjang hamparan pasir.

Pengalaman mengendarai kuda dan naik ratusan tangga mungkin anak2 yang lebih terkesan. Sementara anak yang besar sudah membalap di depan, saya yang mendampingi si kecil yang baru pertama kali naik kuda sempat mendengar dia bertanya pada pemandunya; “ Pak, kudanya namanya siapa”.
Sang pemandu menjawab dengan pendek:”Wage“

Sayang, kawah Bromo tidak bisa dilihat dasarnya. Terlebih lagi aroma belerang begitu kuat sehingga kita tidak bisa berlama-lama diatas.

Tetapi pesona Bromo memang luar biasa. Hati siapa yang tidak tersentuh oleh indahnya kawah Bromo yang mengeluarkan asap belerang, sementara disampingnya tegak dengan manisnya Gunung Batok dengan goresan2 fantantis di badannya.

Ketika badan dan rambut penuh debu, ternyata hati justru penuh haru.

Salam pesona,
Ries

Thursday, September 20, 2007

" Ayat-ayat Cinta "

Bulan puasa ini disamping bacaan wajib sebagai umat muslim (AQ), saya cenderung memanjakan hobby membaca novel2 sastra yang sempat saya tinggalkan karena berganti buku2 tentang bisnis, motivasi dan pengembangan diri.

Setelah menyelesaikan tiga buku tetralogi Laskar Pelangi yang luar biasa mempesona itu, kemarin lusa ‘hati saya gerimis’ ketika melahap dan menyelesaikan bukunya Habiburrahman El Shirazy, yang berjudul Ayat-Ayat Cinta.

Mungkin sebagian dari sahabat akan berkomentar bahwa saya ini terlalu melankolis; setiap baca buku selalu terkagum-kagum dan tersentuh hingga memberi pujian setinggi langit.

Duh… enggak deh.

Ini buku yang baik dan layak dibaca. Ini buku yang mengajarkan akhlak, budi pekerti dan keimanan seorang muslim dalam menghadapi belantara kehidupan sekuler di jaman sekarang ini. Buku ini tidak membosankan karena tidak menggurui dan saking mengasyikannya, saya menyelesaikannya dalam waktu kurang dari 2 malam.
Bahkan ada komentar menarik yang berbunyi: “…..sebaiknya anda jangan berumah tangga dulu sebelum membaca buku ini”

Saya tidak tahu apakah cerita ini merupakan ‘true story’ dari tokoh pengarangnya atau sekedar rekaan fiksi semata. Tetapi seandainya tokoh seperti Fachri itu ada, betapa bangga kedua orangtuannya. Betapa bangga teman2 dan sahabat dekatnya dan mestinya betapa bangga Indonesia. Terlebih seandainya tokoh seperti Aisya’ juga benar2 ada – atau bahkan banyak di bumi Islam – maka saya tidak meragukan lagi bahwa kerukunan umat akan cepat tercapai dan kejayaan Islampun hanya tinggal menunggu waktu yang tidak lama.

Sahabat2 penasaran? Cepetan... baca deh, jangan ditunda.

Kita merindukan tokoh2 dan pemimpin2 yang berakhlaqul karimah seperti Fachri.

Salam cinta,
Ries

Monday, September 17, 2007

" Laskar Pelangi "

Tadi malam kami sekeluarga tidak sahur;

“Papa sih, pokoknya nanti kalau gak kuat saya mau buka waktu Dhuhur saja!” demikian si kecil menyalahkan saya dan merajuk pada pagi harinya.

Saya hanya bisa minta maaf dan benar-benar merasa salah. Gara-gara menyelesaikan bukunya Andrea Hirata tadi malam saya tidur larut. Akibatnya ketika jam 03.00 alarm HP meraung-raung, saya tetap terlena tidur atau mungkin setengah sadar saya bangun dan mematikan alarm – tetapi kemudian tidur lagi. Tanpa ingat bahwa seharusnya kita bangun untuk sholat tahajud dan kemudian menikmati makan sahur. Akhirnya, seluruh rumah puasa tanpa sahur.

Mungkin sebagian sahabat akan mencela saya dan berkata sinis; “Duh…. Ketinggalan sekali. Hari gini baru baca Laskar Pelangi?”

Ya, mau bagaimana lagi? Saya memang terlambat informasi tentang buku heboh ini. Tetapi buku tetralogi “Laskar Pelangi” ini memang sangat memukau. Jalinan kata-kata yang tersusun indah mengukuhkan bahwa tidak salah jika julukan seniman kata melekat pada diri pengarangnya. Lihatlah caranya menggambarkan situasi; begitu memikat. Terlebih penggambaran karakter dari para tokohnya begitu kuat membuat kita begitu bersimpati atas perjuangan masing-masing tokohnya.

Betapa kemiskinan tidak menjadi penghalang bagi para tokohnya untuk maju dan menggapai mimpi2-nya. Betapa dibalik kebodohan dan sifat lugu masih sering ditemukan sifat tulus setia kawan yang membuat hati ini terharu.

Sejujurnya, saya banyak tersenyum dan bahkan terpingkal-pingkal membaca novel ini. Rasa humor yang halus dipaparkan dengan jalinan situasi dan kata yang indah dan memiliki efek filosofis yang beresonansi terus menerus. Disamping itu Andrea begitu pintar membangkitkan rasa trenyuh yang membuncah pada kita; ketika melihat nasib tokohnya si Bintang dan Mahar yang akhirnya harus terdampar arah dan melupakan sekolah, terlebih ketika mengenal Harun atau memahami pengorbanan si lugu Jibron ketika menyerahkan dua “celengan kudanya” untuk sahabatnya si tokoh utama Ikal dan Arai.

Mulai dari serial pertama “Laskar Pelangi”, “Sang Pemimpi” hingga serial ketiga “Edensor” perasaan saya begitu penuh warna; senyum, tawa terpinkal-pingkal dan juga rasa trenyuh yang mengharu biru.

Hampir tidak ada bagian yang sia-sia yang dituliskan dalam ketiga buku diatas. Jalinan2 plot cerita saling sambung-menyambung dalam susunan mosaik2 yang lucu, indah, menggelitik dan mengharukan.


Buku yang bercerita tentang pendidikan, kemiskinan dan mimpi2 ini sangat menggunggah nurani. Agar memandang kemiskinan dari sudut yang lain dan menyadari bahwa bagian kecil apapun dari peristiwa yang pernah kita alami dalam kehidupan ini adalah merupakan kumpulan2 mosaik yang akan membentuk kehadiran kita disaat ini dan saat nanti.

Two tumbs up for Andrea!! Saya tidak sabar untuk membaca Maryamah Karpov ….

Banyak salam,
Ries

Monday, August 27, 2007

" Jalur Prestasi "

Sewaktu remaja saya pernah dan sering sekali mendapat nasehat dari orang-orang terdekat agar focus dan memiliki keahlian/ kelebihan khusus. Tidak masalah, apakah kelebihan khusus itu terkait dengan pelajaran2 di sekolah ataukah kelebihan yang diterapkan diluar jalur pendidikan resmi.

Kini, nasehat itu saya dengungkan kembali di telinga anak2 saya, karena saya yakin bahwa nasehat baik semacam ini sifatnya up to date seiring berubahnya/ perkembangan jaman. Ini terkait dengan kenyataan bahwa dalam pendaftaran siswa/ mahasiswa baru yang saya ikut repot2 bulan kemarin, ternyata system PMDK (oleh PT/ UNAIR) menerapkan dua jalur, yaitu jalur Prestasi dan Umum.

Yang bisa mendaftar melalui jalur prestasi tentu saja mereka2 yang memang telah berprestasi dalam bidangnya. Selain prestasi akademis di sekolah, tercatat kemampuan/ prestasi yang diakui antara lain dalam bidang seni, olahraga, juara olimpiade, science dll.
Saya tidak ingin nulis banyak tentang jalur ini karena memang saya juga tidak tahu banyak tentang system penerimaan siswa/ mahasiswa baru sekarang ini.

Hanya saya memang ‘mengompori’ anak2 saya untuk lebih focus dan tekun pada bidang-bidang yang mereka sukai. Apapun itu, jangka pendek, menengah dan panjang pasti akan membawa manfaat secara langsung maupun tidak langsung.

Alhamdulillah, anak saya yang besar sedikit banyak dapat menangkap dan mencoba menerima setiap kesempatan yang memungkinkan untuk berkembang. Meski pada dasarnya pemalu, tetapi dia sudah bisa dan berani menepis rasa malu atau ragu ketika secara aklamasi terpilih sebagai ketua kelas (dan kemudian juga sebagai pengurus OSIS). Dengan banyaknya kegiatan dan interaksi dengan teman sebaya, tentu perkembangannya lebih positif.

Yang membuat dada saya sedikit menggelembung, adalah peristiwa hari Minggu kemarin (26-8-2007). Dalam “Kompetisi Musik Pelajar Sidoarjo” - dimana keinginan ikut mendaftar adalah dari dirinya sendiri tanpa saya saran apalagi paksa – dia meraih prestasi yang sungguh membanggakan. Terpilih sebagai Best Drummer (juara-1) dan juga sebagai Best Bassist Guitar (juara-3).

“ Pa, besok2 saya bisa ikut jalur prestasi, masuk SMA favourit” desisnya lirih. Oh,… ternyata dia ingat cerita/ nasehat saya dan sudah mulai membangun pondasi masa depannya. Meskipun saya belum tahu apakah prestasi semacam ini bisa secara langsung mendukung keinginannya, tetapi saya tersenyum lebar menyetujui. Terlebih, kegiatan ini salah satu pendukung dan penyelenggaranya (Juri) adalah juga dari Kantor DikNas.

Pokoknya bangga deh…

“ Sibuklah dengan kelebihanmu dan jangan hiraukan kekuranganmu…...”

Saya pernah menanyakan dan mendiskusikan kalimat bijak diatas dengan Bpk. Mario Teguh karena saya mikir kapan kemudian kita memperbaiki kelemahan kita. Ternyata beliau 100% menyetujui. Bahkan beliau mempertegas; ……jangan hiraukan kelemahan, karena kelemahan kita akan tertutup oleh kelebihan2 yang kita bangun setiap hari.

Mari ajak keluarga kita untuk focus pada kelebihan…..

Salam prestasi,
Ries

Thursday, August 16, 2007

" Mimpi "

kemarin malam aku bermimpi
uang 11 digit itu sudah ada direkeningku
rumah maha luas itu sudah kumasuki dengan rasa haru
bisnis dan anak2-kupun bertumbuh dengan pencapaian terbaru

ada bidadari yang tersenyum menyambutku
ada binar terang yang terus mengeilingiku
semua keinginan seolah telah mewujud
dalam bingkai keinginan yang telah tertuang dalam angan dan doa2ku

tadi malam karena tidak mimpi lagi, aku merenung
betapa lemah diri ini dihadapanMu
bersimpuhpun serasa masih terlalu tinggi
disisa umur ini, mampukah kujangkau ampunan dan rahmatMu?

kubungkus doaku dengan niat dan ketulusan
tetapi pikiranku masih digelayuti nafsu belaka
ketika doa masih tercampur pikiran kotor duniawi
masihkan Engkau berkenan mengabulkannya?

mimpiku telanjang, penuh ketidaksadaran
tak terbungkus niat ataupun nafsu duniawi
tetapi kuperoleh apa yang kuminta dalam doa
sayang, hanya di alam mimpi…..bukan kenyataan

“mungkin tindakanku masih belum mencerminkan keinginan seperti dalam angan & doaku
juga niat baik dan ketulusan masih sebatas untuk kepentingan diri dan keluarga”

“mungkin alam bawah sadarku belum tersetting selaras dengan keinginan dan doa2ku
sehingga alam masih enggan merealisasikan mimpi2ku dalam kenyataan”

aku masih mencari
adakah rahasia yang masih tersembunyi?
Ikhlas?

salam ikhlas,
Ries

Wednesday, August 8, 2007

"Leverage"

“Ketika saya menantang Ben Johnson untuk adu lari, tentu saja semua orang tertawa dan akan bilang saya pasti kalah, dan sayangnya itu memang betul! Tetapi sebenarnya saya masih bisa menang, dengan catatan; si Ben berlari dengan sekuat tenaga seperti biasanya (karena dia memang atlit lari) sementara saya meluncur menaiki Ferrari. Mobil Ferrari inilah Leverage Factor saya”

Ilustrasi ini dikemukakan oleh salah seorang pembicara dari Singapore (saya lupa namanya) dalam Seminar Internet Marketing sekitar sebulan lalu.

Leverage, yang dalam bahasa Indonesia biasa kita terjemahkan sebagai “daya-ungkit” begitu menggema akhir-akhir ini. Sederhananya, digambarkan bahwa jika hanya mengandalkan tenaga kita tentu susah atau bahkan tidak mampu untuk menggeser batu seberat 500 kg atau lebih. Tetapi dengan bantuan ‘pengungkit’ – apakah itu terbuat dari sebatang kayu atau sepotong besi - maka batu itu akan dengan mudah tergeser.

Itu semua kita tahu, apalagi saya juga pernah belajar ilmu Mekanika Teknik dimana banyak pembahasan tentang hal2 semacam itu.

Menariknya, sekarang ini prinsip2 semacam itu mulai diterapkan dalam bisnis pemasaran. Saya jadi ingat sewaktu Boss dari McDonald memberi kuliah di sebuah PT ternama dan kemudian memberi pertanyaan:
“Apakah anda tahu, saya menjadi sekaya itu karena bisnis apa?”
Dan para mahasiswa itu semua pada tertawa serta serempak menjawaban seragam; “You’re kidding, tentu saja anda kaya dari bisnis burger, fried-chicken, hotdog dll”

Tetapi boss MD ini justru menggeleng keras, dan para mahasiswa itu jadi mikir.

“Memang, tentu saja bisnis MD ini membuat saya kaya, tetapi sesungguhnya bisnis tanah/ property-lah yang membuat saya lebih cepat kaya”

Belakangan, dia bercerita bahwa seiring dengan bertumbuhnya gerai MD diseluruh Amerika – bahkan dunia – maka dia jauh2 hari sudah mengincar dan ber-investasi tanah/ bangunan di lokasi2 yang strategis. Di lokasi2 inilah kelak akan didirikan gerai MD yang baru. Berikutnya, bisa ditebak, ketika ada calon Franchisee yang berniat membuka gerai MD, dia dengan keyakinan tinggi merekomendasikan lokasi tanah/ bangunannya dan tentu saja menjualnya dengan harga yang sangat2 tinggi.

Ada juga cerita lokal yang menurut pengamatan saya sangat menarik dan unik.

Sekitar dua tahun yang lalu, mungkin masyarakat kita masih belum terbiasa atau bahkan awam dengan yang dinamakan ‘Kebab’. Mungkin hanya sebagian dari kita yang sering pergi ke tanah Arab atau sewaktu berhaji sempat akrab dengan makanan ini (atau mungkin di kampung Arab, semacam Ampel gitu hehe..).

Nah, sekarang ini lihatlah; hampir di setiap sudut kota – khususnya Surabaya - bertebaran gerobak warna kuning yang menjual makanan ‘burger dari Arab’ ini. Harganya juga tidak murah, tetapi bahwa jumlah gerainya terus bertambah itu paling tidak mengindikasikan bahwa penggemarnya cukup banyak. Fenomena ini juga mengilhami makanan/ roti sejenis yang juga berasal dari Arab yaitu Roti Maryam.

Saya memang sedikit banyak mengikuti sepak terjang mas Hendy (pemilik dan pendiri Kebab Turki Baba Rafi) yang luar biasa ini. Profil muda ini juga menambah bukti bahwa meski DO dan tidak menamatkan kuliahnya, tetapi kesuksesannya sungguh layak diacungi jempol. Tidak heran dia kemudian menerima banyak penghargaan (termasuk dari Majalah Business Week sebagai Asia's Best Entrepreneur Under 25 dan juga dari Majalah SWA yang bergengsi itu).

Berbekal semangat dan kejelian, dia mengembangkan makanan Kebab ini mulai dari nol. Dia cukup dekat dengan media sebagai sarana berpromosi. Terlebih lagi kemudian dia mewaralabakan bisnis penjualan Kebab ini dengan system yang sangat mudah dilaksanakan, yaitu dengan menggunakan gerobak (nah ini daya ungkitnya).

Jumlah gerainya melonjak, penjualanpun tentunya meningkat tajam.

Berbekal nama baik seperti itu, dia memanfaatkan untuk merambah gerainya ke seluruh Indonesia (dengar2 kalau tidak salah jumlah gerainya sudah lebih dari 140 buah dan ada di 30 kota2 besar di Indonesia). Hebatnya lagi, Franchise Fee-nya juga tidak murah lho.

Saya juga sedang mikir untuk menciptakan ‘daya ungkit’ dalam bisnis saya. Saya senantiasa ingat nasehat seorang teman;

“Dalam bisnis sekarang ini yang diperlukan adalah revolusi – bukan evolusi. Penjualan naik per-tahun 10-20% itu nothing. Kalau naiknya bisa 500-1000% per tahun itu baru something”

Dia pantas mengatakan itu karena dia sudah membuktikan.

Sekarang ini giliran KITA!


Salam ungkit,
Ries

Tuesday, August 7, 2007

"Berburu Sekolah"

“Maaf pak, bagian pendaftaran sedang tidak ada di tempat”

“Mmm…biayanya masih belum ada keterangan pak, tetapi mungkin masih sama dengan tahun lalu”

“Bapak datang saja kesini sambil melihat kampusnya”


Suara2 dari seberang telpon itu terdengar ramah tetapi kadang ada juga yang serasa datar.

Saya memang sedang mencari-cari kampus swasta untuk keponakan yang kemarin ternyata gagal di SPMB. Setelah berburu di internet, ternyata tetap saja saya harus menelpon ke kampus terkait, karena rata2 data yang ada di internet kurang lengkap dan bahkan “terkesan asal-asalan”.
Macam-macam kekurangan data yang ada di website masing2 Perguruan Tinggi, dan yang terbanyak adalah data atau informasi yang tidak update serta tidak lengkap.

Bulan2 ini adalah masa berburu bagi sebagian besar orangtua dan murid untuk mencari sekolah/ kampus yang sesuai. Saat ini PT Swasta seolah berlomba menjaring mahasiswa baru dengan promosi2 yang lumayan menarik. Sayangnya data/ informasi, persyaratan dan bahkan jadwal pendaftaran yang tersedia di website tidak di update alias masih yang tahun lalu. Dengan terpaksa saya harus telpon ke kampus terkait dan jawaban2 seperti diataslah yang terdengar.

“Begitu pentingkah sekolah/ kuliah saat ini?”

Saya jadi ingat bukunya Robert T. Kiyosaki dalam “Rich Dad Poor Dad”, yang begitu gencar menyerang keburukan sistem pendidikan sekolah yang ada saat ini. Bahwa sekolah cenderung mencetak mahasiswanya mempunyai daya pikir yang terpola gaya-gaya lama dan tidak pernah mengajarkan pola pikir modern yang “think out of the box”. Sukses tidak harus diraih melalui jalur pendidikan formal di sekolah2.

Buktinya;

Bill Gate tidak lulus kuliah, tetapi menjadi orang kaya nomor-1 di dunia

Dan tidak usah jauh2 deh….

Pak Purdi S. Chandra, meski sempat kuliah di UGM tapi DO, dan sekarang malah menjadi milyarder dalam bisnis pendidikan. Dia juga yang dikenal sebagai penyebar virus ke-wirausahaan

Pak Andrei Wongso, kabarnya bahkan tidak lulus SD tetapi sekarang menjadi Motivator nomer -1 di Indonesia

Orangtua teman baik saya, meski dia tidak lulus SD, tetapi sebagai juragan soto ayam, penghasilannya sudah jauh diatas gaji Manager perusahaan bonafid yang saya kenal. Bayangkan, ada banyakkah level Manager yang berpenghasilan hingga 40 jt/ bulan? kalaupun ada saya yakin jumlahnya bisa dihitung dengan jari.

Tetapi teman saya juga membantah; bahwa ciri bangsa yang maju salah satunya ditentukan oleh tingkat pendidikan rakyatnya. Lihatlah Amerika, Jerman juga Jepang, mereka sangat maju karena pendidikan dikelola dengan baik. Apalagi bangsa Jepang - yang dikenal sebagai bangsa inovativ – itu semua karena mereka maju dalam pendidikan. Pendidikan yang baik menciptakan kualitas manusisa2 yang super.

Saya memang tidak menyangkal. Apalagi saat ini saya memang masih yakin bahwa sekolah itu penting.

Kembali ke masalah sekolah, khususnya di Jakarta sekarang ini sudah begitu gencar dengan system baru yang dinamakan ‘Home Schooling’. Hebatnya lagi, yang menerapkan system baru ini justru kalangan2 atas yang notabene sebelumnya punya tingkat pendidikan yang tinggi/baik. Sebutlah para expartriate, pengusaha2 ternama hingga merembet ke para artis.

Saya jadi ikut gelisah.

Ketika saya buka website beberapa Perguruan Tinggi ternama, sebutlah UNAIR, UGM, UI, STAN dll, terlihat websitenya memang dikelola dengan baik dan professional. Semua informasi sudah ada disana dan kalaupun saya telpon lagi itu semata-mata ingin konfirmasi ulang saja atau sekedar tanya detail lokasinya.

Sayang, keponakan saya tidak diterima di PT diatas.

Sementara, saya tidak bisa membayangkan bahwa dijaman sekarang ini dan untuk sebuah institusi pendidikan (Perguruan Tinggi) ternyata banyak juga yang pengelolaan websitenya tidak bisa berjalan dengan baik. Apakah mereka berpikir bahwa asal sudah punya website itu artinya mereka sudah tergolong favourite?. Lalu bagaimana kira2 kualitas/ output mahasiswanya?

Ah, bagaimanapun juga kita harus ber-positif feeling.

Salam super,
Ries

BSG - BAB.V - AUP - Babak-16

BALADA SWANDARU GENI Bab V: Ajaran Untuk Pulang Babak – 16 Sebenarnyalah, malam hari itu menjadi sebuah malam yang tidak terlup...