Dahsyat!! Ungkapan ini sering terlontar dan digemakan oleh Pak Tung ( Tung Desem Waringin)yang juga pengarang buku dengan judul diatas. Pendapat pibadi saya sendiri (dengan tidak) terpaksa harus mengakui bahwa apa yang ditulis Pak Tung dibuku itu memang benar2 dahsyat. Kata ini tidak berlebihan untuk menggambarkan betapa tulisan2 Pak Tung bisa membangkitkan, menggelorakan dan bahkan membakar semangat untuk lebih berani, lebih mandiri dan lebih optimis dalam berwirausaha. Ini buku (pengarang) lokal yang membuat semangat dan motivasi saya kembali berdegup kencang.
Meskipun mungkin tidak banyak hal2 baru yang ditulis dalam buku itu, tetapi gaya dan cara memprovokasi pak Tung benar2 membuka mata kita untuk lebih peka terhadap fenomena sekitar. Dengan gamblang pak Tung menjabarkan bahwa pameo “uang bukan segala-galanya” terbantahkan oleh kenyataan bahwa “meskipun uang bukan segala-galanya, tetapi segalanya perlu uang”
Apa yang nomor satu dalam hidup kita ini? Beribadah? Keluarga? Karier? Teman? Kesenangan dan hobby? Atau apapun, semuanya adalah pilihan kita. It’s a matter of choices!
Kenyataan bahwa anugrah waktu yang 24 jam sehari itu kalau diringkas kita manfaatkan untuk 3 ranah kegiatan, yaitu:
Pertama : tidur (7-8 jam)
Kedua : bekerja 8 – 10 jam (bahkan masih ada yang rela lembur)
Ketiga : kegiatan keluarga, bersantai, sex, hobby dll (6 – 7 jam)
Bekerja menghabiskan waktu terlama (8-10 jam) yang tujuannya satu/ sama yaitu “mencari uang”. Bahwa uang itu nantinya adalah untuk kebutuhan keluarga, hobby, berlibur dan seterusnya, itu adalah azas manfaat setelah memiliki uang. Jadi uang tetaplah nomor satu.
Tentu saja tetap ada pengecualian khususnya terkait hubungan kita dengan Allah Sang Maha Pencipta alam semesta, dimana meski tidak memiliki uang, kita tetap bisa beribadah dengan baik. Tetapi sesungguhnya, dengan memiliki uang kita bisa beribadah dengan lebih baik, yaitu melalui pintu amal. Bagaimanapun juga, ketika kita bicara pada level yang sama; sama2 sholeh, sama2 khusu’ dll, maka muslim yang kaya akan lebih banyak bisa berbuat amal melalui hartanya. Kalau ada pilihan, kita tentu memilih sebagai hambaNya yang sholeh dan kaya daripada hambaNya yang sholeh dan miskin. Betul sahabat? ;-)
Sekarang ini saya mencanangkan target yang lebih jelas dalam bisnis. Juga setiap saat senantiasa meng-affirmasi diri untuk menjaga dan meningkatkan semangat dan motivasi. Bahwa; setiap hari tambah sehat – setiap hari tambah kuat – setiap hari tambah kaya. Hehe…. ;-)
Sebagai murid Anthony Robin, Pak Tung memang ahli motivasi dan pembicara nomor satu (dan sudah kaya) di Indonesia saat ini. Seminarnya selalu membakar semangat dan senantiasa mampu membangun optimisme peserta. Terlebih ada yang bertemakan “Awaken The Giant Within”. Dahsyat!! Ketika mengikuti seminar atau setelah melihat VCD-nya, saya selalu bisa mengangkat dada dan berkata “Saya pasti bisa. Saya hanya perlu mencari cara dan jalan yang benar”
Pada saat yang sama, saya bersyukur punya teman2 yang senantiasa mengingatkan/ menasehatkan pentingnya proses dalam bekerja. Bahwa uang menjadi nomor satu boleh2 saja, tetapi hakekat nomor satu tentulah terkait penggunaan uang itu sendiri. Sudahkah diperoleh dengan cara yang halal? Sudahkah dibelanjakan sesuai jalan yang diridhoi Allah? Uang memang perlu dan bahkan penting. Tetapi hakekat hidup adalah untuk beribadah kepada Allah.
Memang betul, ketika mati kita tidak akan membawa uang. Tetapi kalau boleh memilih, selain meninggalkan ilmu, amal dan anak yang sholeh/sholehah, ketika mati saya ingin meninggalkan warisan; UANG!! ;-)
Salam Dahsyat,
Ries
Sunday, May 13, 2007
Thursday, May 3, 2007
"A Loving-Punishment"
Sambil berolah-raga, tadi pagi saya mendengarkan dialog di radio “Smart FM” tentang etos kerja. Ada yang menarik diungkapkan oleh “Guru Etos” Indonesia pak Johnson S., yaitu tentang “punishment”.
Diceritakan seorang kepala sekolah di sebuah SMA, yang memberikan hukuman atas ulah nakal para muridnya. Alih-alih menerapkan hukuman fisik ‘ala IPDN’, beliau justru membawa semua murid terhukum ini masuk ke Perpustakaan. Kemudian masing2 murid diwajibkan untuk membaca buku dan kemudian meringkas atau membuat sypnosis-nya. Sang kepala sekolah ikut menunggui kerja murid2 terhukum ini. Ketika bel sekolah berdentang tanda istirahat/makan siang, maka yang belum selesai dilarang keluar dan tetap kerja hingga selesai. Hebatnya, sang kepala sekolah tetap nunggu dan ikut menunda makan siangnya hingga semua murid2 terhukum ini selesai semua dengan pekerjaannya.
Betapa beberapa tahun kemudian, anak2 terhukum itu baru dapat memahami dan sangat merasakan makna hukuman itu serta kemudian menaruh hormat pada sang kepala sekolah yang sekarang sudah pensiun. Bahwa hukuman yang diberikan adalah semata-mata atas dasar cinta. Bahwa hukuman yang diberikan adalah tetap dalam kerangka mendidik anak2 kita agar tetap berjalan/ berkembang maju meski dengan sedikit tekanan (lembut).
Saya jadi teringat masa kecil dulu. Rasanya banyak dari kita pernah mengalaminya, yaitu ketika terlambat masuk kelas kita harus berdiri dipojok dengan kaki terangkat satu. Meski capek, tetapi yang lebih terasa dan membekas adalah rasa malu yang besar karena semua tatapan mata tertuju kekita. Ada yang tertawa-tawa sinis, ada pula tatap mata kasihan yang sebetulnya tidak perlu. Kita berjanji untuk lain kali tidak mengulanginya. Tapi sudahkah kita menyadari atau adakah makna dari hukuman itu? Apakah kita lebih pintar kemudian kita lebih menaruh rasa hormat pada guru kita akibat hukuman itu?
Dunia pendidikan memang berkembang, ilmu psikologi dengan berbagai aspeknya juga menemukan banyak teori baru yang lebih mengena subyek didik saat ini. Semuanya serba berubah, dan kitapun sedang dan harus berubah. Seandainya saat ini saya berbuat salah dan boleh memilih, saya ingin hukumanya adalah seperti yang diberikan bapak kepala sekolah SMA itu; “ a loving-punishment”
Loving you all as always,
Salam,
ries
Diceritakan seorang kepala sekolah di sebuah SMA, yang memberikan hukuman atas ulah nakal para muridnya. Alih-alih menerapkan hukuman fisik ‘ala IPDN’, beliau justru membawa semua murid terhukum ini masuk ke Perpustakaan. Kemudian masing2 murid diwajibkan untuk membaca buku dan kemudian meringkas atau membuat sypnosis-nya. Sang kepala sekolah ikut menunggui kerja murid2 terhukum ini. Ketika bel sekolah berdentang tanda istirahat/makan siang, maka yang belum selesai dilarang keluar dan tetap kerja hingga selesai. Hebatnya, sang kepala sekolah tetap nunggu dan ikut menunda makan siangnya hingga semua murid2 terhukum ini selesai semua dengan pekerjaannya.
Betapa beberapa tahun kemudian, anak2 terhukum itu baru dapat memahami dan sangat merasakan makna hukuman itu serta kemudian menaruh hormat pada sang kepala sekolah yang sekarang sudah pensiun. Bahwa hukuman yang diberikan adalah semata-mata atas dasar cinta. Bahwa hukuman yang diberikan adalah tetap dalam kerangka mendidik anak2 kita agar tetap berjalan/ berkembang maju meski dengan sedikit tekanan (lembut).
Saya jadi teringat masa kecil dulu. Rasanya banyak dari kita pernah mengalaminya, yaitu ketika terlambat masuk kelas kita harus berdiri dipojok dengan kaki terangkat satu. Meski capek, tetapi yang lebih terasa dan membekas adalah rasa malu yang besar karena semua tatapan mata tertuju kekita. Ada yang tertawa-tawa sinis, ada pula tatap mata kasihan yang sebetulnya tidak perlu. Kita berjanji untuk lain kali tidak mengulanginya. Tapi sudahkah kita menyadari atau adakah makna dari hukuman itu? Apakah kita lebih pintar kemudian kita lebih menaruh rasa hormat pada guru kita akibat hukuman itu?
Dunia pendidikan memang berkembang, ilmu psikologi dengan berbagai aspeknya juga menemukan banyak teori baru yang lebih mengena subyek didik saat ini. Semuanya serba berubah, dan kitapun sedang dan harus berubah. Seandainya saat ini saya berbuat salah dan boleh memilih, saya ingin hukumanya adalah seperti yang diberikan bapak kepala sekolah SMA itu; “ a loving-punishment”
Loving you all as always,
Salam,
ries
Wednesday, April 25, 2007
"Anda Luar Biasa (2)"
Saya sudah membaca bukunya Eny Kusuma dengan judul diatas. Betapa saya tadinya sangat penasaran, gerangan apakah yang ditulis oleh mantan TKW dalam buku ini sehingga membuat begitu banyak orang2 pintar mengacungkan ‘two thumbs up’.
Tetapi hingga separo lebih dari isi buku ini saya baca, saya masih belum menemukan sesuatu yang saya anggap baru ataupun sesuatu yang membuat saya terkagum-kagum.
Ya, saya biasanya bisa terkagum-kagum ketika membaca sebuah buku yang menarik. Ada dua buku yang membuat saya terguncang ketika pertama kali saya membacanya (bahkan ketika beberapa kali saya baca ulang, saya masih saja terpana oleh isi maupun gaya penulisan/ gaya memprovokasinya). Dua buku ini pula yang mengubah jalan hidup saya, dan membuat saya nekat keluar sebagai karyawan dan berusaha ber-wirausaha.
Buku pertama adalah ‘Who Move My Cheese’ karya Spencer Johnson dan buku yang kedua – seperti juga banyak orang – adalah ‘Rich Dad Poor Dad’-nya Robert T. Kiyosaki.
Nah, kembali ke bukunya Eny Kusuma ini, saya terpaksa berpikir ulang; apa yang membuat para tokoh motivator itu mengacungkan dua jempol atas buku ini? Sampai akhirnya, saya jeda dulu dan sempatkan buka lagi situs http://pembelajar.com/ serta membaca ulang komentar2 mereka. Saya yakin, tidak mungkin mereka para tokoh ini asal2-an memberi komentar.
Saya menemukan sesuatu!!
Ya, saya kira para tokoh Motivator itu sangat komprenhensif dalam menanggapi dan memberikan komentar. Mereka tidak semata-mata menilai isi dan pesan dari buku ini, melainkan juga latar belakang si penulis serta kejelian penulis dalam memberikan contoh lugas atas dasar pengalamannya sehari-hari. Terlebih pencapaian seorang Eny Kusuma dengan latar belakang seorang TKW – yang gagap dimasa kecilnya - hingga memiliki kemampuan penulisan seperti sekarang ini memang belum pernah dicapai oleh satu orangpun. Bahwa dia memilih menulis dalam bidang motivasi adalah juga sesuatu yang tidak umum. Inilah yang mungkin bisa dianggap dahsyat, luar biasa dan komentar positif lainnya.
Meski tidak istimewa tetapi membaca dan memiliki buku ini tidaklah rugi. Siapa tahu, ini adalah langkah awal dari seorang Eny Kusuma sebelum – mudah-mudahan - dia membuat ‘further giant steps’ atau bahkan ‘giant jump’ di masa2 mendatang. Semoga!
Salam sukses,
ries
Tetapi hingga separo lebih dari isi buku ini saya baca, saya masih belum menemukan sesuatu yang saya anggap baru ataupun sesuatu yang membuat saya terkagum-kagum.
Ya, saya biasanya bisa terkagum-kagum ketika membaca sebuah buku yang menarik. Ada dua buku yang membuat saya terguncang ketika pertama kali saya membacanya (bahkan ketika beberapa kali saya baca ulang, saya masih saja terpana oleh isi maupun gaya penulisan/ gaya memprovokasinya). Dua buku ini pula yang mengubah jalan hidup saya, dan membuat saya nekat keluar sebagai karyawan dan berusaha ber-wirausaha.
Buku pertama adalah ‘Who Move My Cheese’ karya Spencer Johnson dan buku yang kedua – seperti juga banyak orang – adalah ‘Rich Dad Poor Dad’-nya Robert T. Kiyosaki.
Nah, kembali ke bukunya Eny Kusuma ini, saya terpaksa berpikir ulang; apa yang membuat para tokoh motivator itu mengacungkan dua jempol atas buku ini? Sampai akhirnya, saya jeda dulu dan sempatkan buka lagi situs http://pembelajar.com/ serta membaca ulang komentar2 mereka. Saya yakin, tidak mungkin mereka para tokoh ini asal2-an memberi komentar.
Saya menemukan sesuatu!!
Ya, saya kira para tokoh Motivator itu sangat komprenhensif dalam menanggapi dan memberikan komentar. Mereka tidak semata-mata menilai isi dan pesan dari buku ini, melainkan juga latar belakang si penulis serta kejelian penulis dalam memberikan contoh lugas atas dasar pengalamannya sehari-hari. Terlebih pencapaian seorang Eny Kusuma dengan latar belakang seorang TKW – yang gagap dimasa kecilnya - hingga memiliki kemampuan penulisan seperti sekarang ini memang belum pernah dicapai oleh satu orangpun. Bahwa dia memilih menulis dalam bidang motivasi adalah juga sesuatu yang tidak umum. Inilah yang mungkin bisa dianggap dahsyat, luar biasa dan komentar positif lainnya.
Meski tidak istimewa tetapi membaca dan memiliki buku ini tidaklah rugi. Siapa tahu, ini adalah langkah awal dari seorang Eny Kusuma sebelum – mudah-mudahan - dia membuat ‘further giant steps’ atau bahkan ‘giant jump’ di masa2 mendatang. Semoga!
Salam sukses,
ries
Thursday, April 12, 2007
"Khilaffiyah"(?)
Kemarin sore, dari Gramedia saya ngebut mau jemput anak di sekolah, maklum jalanan agak kosong n saya takut terlambat. Buku-nya Eny Kusuma yang saya cari ternyata belum ada di Gramedia mana2.
Syukur2 gak terlambat dan ketika ketemu anak saya yang kecil, dia mengutarakan niatnya untuk mengikuti lomba melukis di acara “Student Fair” disekolahnya. Saya tentu saja mendukung!
Sore hingga malamnya, seperti biasa dia duduk sambil terus latihan menggambar di kertas HVS kosong yang memang saya sediakan khusus untuk hobby-nya itu. Dari dulu dia memang tidak suka jika harus menggambar langsung di buku gambar, karena kalau di kertas HVS ketika merasa gambarnya kurang sreg, dia bisa langsung robek2 dan buang kertas itu.
Malam ini, tidak seperti biasanya, yang dia robek2 sebelum gambarnya selesai serasa lebih banyak dari biasanya. Juga kali ini banyak keluh kesah ketidakpuasan yang keluar dari mulutnya.
Ketika saya intip, ternyata dia berusaha menggambar sesuatu yang memang tidak biasa dia gambar. Anak saya ini memang ada bakat melukis. Meskipun sekarang sudah tidak ikut sanggar lukis lagi, tetapi coretan2-nya cukup membuat saya dan kakaknya senang dan sering memujinya. Hanya saja, yang selama ini dia gambar (hampir 100%) adalah tokoh-tokoh kartun dari Jepang. Dari hobby nonton film kartun di TV, itu (Tokyo Mew-Mew; Retsu n Go, Conan dll), dia mampu menggambar tokoh2nya dalam berbagai situasi dan terkadang membuat serial pendek (semacam komik Jepang/ manga).
Nah, tadi malam ternyata dia merasa tidak ‘mood’ dan merasa bodoh alias tidak pinter nggambar. Ketika saya perhatikan, ternyata dia sedang menggambar situasi yang menunjukkan nuansa Islami. Tokoh perempuannya memakai jilbab dan yang pria tentu saja menggunakan peci alias kopyah. Belum lagi penggambaran suasana sekitarnya yang memang sepertinya tidak memberi keleluasaan dia dalam ber-ekspressi.
Selama ini, tokoh kartun yang digambarnya bisa dalam posisi yang bebas sesukanya; sedang jingkrak2, berkelahi, sedang terbang atau lainnya. Banyak pula aksesories yang menempel di badan serta model rambut pada tokoh yang digambarnya itu yang kadang2 tidak sempat saya pikirkan. Tetapi dia bisa menggambarnya dan penilaian saya sih bagus (hehe maklum,…. Papanya!).
Nah kali ini, yang digambarnya adalah beberapa gadis cilik dengan busana muslimah, yang saling berdiri dan saling menasehati. Dibelakangnya ada ustadz yang mengawasi. Dia bingung, sekitarnya diberi apalagi? Wah, gambar dan coretannya jadi terkesan jelek dan kaku. Gak ada rambut yang bergelombang, gak ada pita ataupun sepatu dengan tali2 yang terjuntai. Yang ada Cuma sedikit renda pada baju muslimahnya. Ketika saya sarankan: Gak apa-apa nak, besok kalau lomba, adik nggambar seperti biasanya saja, komik kartun2 Jepang itu”
Dengan tegas dia menolak, menurutnya gambarnya nanti ya harus tidak boleh kelihatan aurot-nya. Saya tanya, kenapa? Apa ada aturan dari sekolah begitu? Dia menggeleng, tetapi ngotot bahwa yang digambar di sekolah nanti harus yang tertutup aurotnya. “Kalau begitu ya jangan berharap menang nak” saya tidak sadar keceplosan ngomong. Tapi dengan santai dia jawab:”Gak papa pa, gak menang gak papa koq”
Wah,.. saya jadi termangu-mangu. Apa sebaiknya sekarang saja saya arahkan dia agar tidak mengambar makhluk yang bernyawa? Apa sebaiknya sekarang juga saya arahkan dia agar tidak lagi bermain musik? Saya jadi lebih kepikiran; disekolah busana muslim diwajibkan, tetapi musik diperbolehkan. (?)
Masalah khilafiyah sungguh tidak mudah!!
Salam hati2,
ries
Syukur2 gak terlambat dan ketika ketemu anak saya yang kecil, dia mengutarakan niatnya untuk mengikuti lomba melukis di acara “Student Fair” disekolahnya. Saya tentu saja mendukung!
Sore hingga malamnya, seperti biasa dia duduk sambil terus latihan menggambar di kertas HVS kosong yang memang saya sediakan khusus untuk hobby-nya itu. Dari dulu dia memang tidak suka jika harus menggambar langsung di buku gambar, karena kalau di kertas HVS ketika merasa gambarnya kurang sreg, dia bisa langsung robek2 dan buang kertas itu.
Malam ini, tidak seperti biasanya, yang dia robek2 sebelum gambarnya selesai serasa lebih banyak dari biasanya. Juga kali ini banyak keluh kesah ketidakpuasan yang keluar dari mulutnya.
Ketika saya intip, ternyata dia berusaha menggambar sesuatu yang memang tidak biasa dia gambar. Anak saya ini memang ada bakat melukis. Meskipun sekarang sudah tidak ikut sanggar lukis lagi, tetapi coretan2-nya cukup membuat saya dan kakaknya senang dan sering memujinya. Hanya saja, yang selama ini dia gambar (hampir 100%) adalah tokoh-tokoh kartun dari Jepang. Dari hobby nonton film kartun di TV, itu (Tokyo Mew-Mew; Retsu n Go, Conan dll), dia mampu menggambar tokoh2nya dalam berbagai situasi dan terkadang membuat serial pendek (semacam komik Jepang/ manga).
Nah, tadi malam ternyata dia merasa tidak ‘mood’ dan merasa bodoh alias tidak pinter nggambar. Ketika saya perhatikan, ternyata dia sedang menggambar situasi yang menunjukkan nuansa Islami. Tokoh perempuannya memakai jilbab dan yang pria tentu saja menggunakan peci alias kopyah. Belum lagi penggambaran suasana sekitarnya yang memang sepertinya tidak memberi keleluasaan dia dalam ber-ekspressi.
Selama ini, tokoh kartun yang digambarnya bisa dalam posisi yang bebas sesukanya; sedang jingkrak2, berkelahi, sedang terbang atau lainnya. Banyak pula aksesories yang menempel di badan serta model rambut pada tokoh yang digambarnya itu yang kadang2 tidak sempat saya pikirkan. Tetapi dia bisa menggambarnya dan penilaian saya sih bagus (hehe maklum,…. Papanya!).
Nah kali ini, yang digambarnya adalah beberapa gadis cilik dengan busana muslimah, yang saling berdiri dan saling menasehati. Dibelakangnya ada ustadz yang mengawasi. Dia bingung, sekitarnya diberi apalagi? Wah, gambar dan coretannya jadi terkesan jelek dan kaku. Gak ada rambut yang bergelombang, gak ada pita ataupun sepatu dengan tali2 yang terjuntai. Yang ada Cuma sedikit renda pada baju muslimahnya. Ketika saya sarankan: Gak apa-apa nak, besok kalau lomba, adik nggambar seperti biasanya saja, komik kartun2 Jepang itu”
Dengan tegas dia menolak, menurutnya gambarnya nanti ya harus tidak boleh kelihatan aurot-nya. Saya tanya, kenapa? Apa ada aturan dari sekolah begitu? Dia menggeleng, tetapi ngotot bahwa yang digambar di sekolah nanti harus yang tertutup aurotnya. “Kalau begitu ya jangan berharap menang nak” saya tidak sadar keceplosan ngomong. Tapi dengan santai dia jawab:”Gak papa pa, gak menang gak papa koq”
Wah,.. saya jadi termangu-mangu. Apa sebaiknya sekarang saja saya arahkan dia agar tidak mengambar makhluk yang bernyawa? Apa sebaiknya sekarang juga saya arahkan dia agar tidak lagi bermain musik? Saya jadi lebih kepikiran; disekolah busana muslim diwajibkan, tetapi musik diperbolehkan. (?)
Masalah khilafiyah sungguh tidak mudah!!
Salam hati2,
ries
Wednesday, April 11, 2007
"Anda Luar Biasa"
Judul diatas bukanlah pujian untuk anda meskipun seandainya anda memang luar biasa. Saya sedang terbelalak dan tekagum-kagum pada sosok ‘Eny Kusuma’ sang penulis buku dengan judul diatas; “Anda Luar Biasa”.
Mungkin sebagian sahabat sudah ada yang membaca buku diatas. Buku yang ditulis oleh seorang TKW yang sedang bergelut mencari nafkah di belantara kota Hong Kong. Yang sehari-hari bergelut dengan pekerjaan yang kita anggap serba remeh i.e.; mengepel lantai, mencuci piring, setrika baju, gantiin popok anak majikan yang ngompol dll. Yahh…ngomong singkatnya pekerjaan yang tidak menuntun/ mengajari kita untuk memperoleh kecerdasan intelektual (padahal sebagian dari kita menganggap bahwa menulis adalah pekerjaan intelek). Belum lagi tekanan2 atau hardikan dari majikan yang biasanya membuat ciut nyali.
Saya belum bisa nulis banyak tentang buku maupun sosok Eny Kusuma ini, kenyataannya saya memang belum membaca bukunya. Kenyataan bahwa dia menulis buku tentang 'Motivasi' itu saja menurut saya sudah luar biasa bagus. Tetapi kalau seorang Tung Desem Waringin berkomentar ‘DAHSYAT’ atas buku ini, seorang Andrie Wongso mengucapkan "Salam Sukses Luar Biasa" dan banyak ahli motivator merekomendasikan untuk membaca buku ini (bahkan pengantar buku ini ditulis oleh seorang Jenny S. Bev yang menyatakan kebanggaanya atas prestasi sahabatnya yang TKW tsb); wah..saya jadi tidak ragu untuk segera bergegas memiliki dan membacanya.
Saya kepingin hari cepat pagi dan bergegas ke Gramedia. Untuk para sahabat yang belum sempat beli bukunya bisa mengenal sosok Eny terlebih dahulu di www.pembelajar.com
Salam sukses
Ries
Mungkin sebagian sahabat sudah ada yang membaca buku diatas. Buku yang ditulis oleh seorang TKW yang sedang bergelut mencari nafkah di belantara kota Hong Kong. Yang sehari-hari bergelut dengan pekerjaan yang kita anggap serba remeh i.e.; mengepel lantai, mencuci piring, setrika baju, gantiin popok anak majikan yang ngompol dll. Yahh…ngomong singkatnya pekerjaan yang tidak menuntun/ mengajari kita untuk memperoleh kecerdasan intelektual (padahal sebagian dari kita menganggap bahwa menulis adalah pekerjaan intelek). Belum lagi tekanan2 atau hardikan dari majikan yang biasanya membuat ciut nyali.
Saya belum bisa nulis banyak tentang buku maupun sosok Eny Kusuma ini, kenyataannya saya memang belum membaca bukunya. Kenyataan bahwa dia menulis buku tentang 'Motivasi' itu saja menurut saya sudah luar biasa bagus. Tetapi kalau seorang Tung Desem Waringin berkomentar ‘DAHSYAT’ atas buku ini, seorang Andrie Wongso mengucapkan "Salam Sukses Luar Biasa" dan banyak ahli motivator merekomendasikan untuk membaca buku ini (bahkan pengantar buku ini ditulis oleh seorang Jenny S. Bev yang menyatakan kebanggaanya atas prestasi sahabatnya yang TKW tsb); wah..saya jadi tidak ragu untuk segera bergegas memiliki dan membacanya.
Saya kepingin hari cepat pagi dan bergegas ke Gramedia. Untuk para sahabat yang belum sempat beli bukunya bisa mengenal sosok Eny terlebih dahulu di www.pembelajar.com
Salam sukses
Ries
" Cinta-3 "
Setengah bercanda, sahabat saya itu menuduh bahwa saya sepertinya sedang jatuh cinta, koq akhir2 ini banyak bicara/ nulis tentang cinta. Wahh....
---------------------------------------------------------------
untuk menulis cinta kita tidak harus sedang bercinta/
karena ketika bercinta, kita justru sering lupa segalanya/
mungkin sebagian orang ingin berendam dalam lautan cinta/
mereguk indah dan nikmatnya cinta/
saya gak../
kalau harus berendam cinta, saya takut terlena/
kalau harus mereguk cinta, saya kuatir kehabisan makna cinta/
saya ingin/
cinta ada sebagai ungkapan nafas semata/
yang menyemangati hati ketika kita melangkahkan kaki/
yang memberi dorongan arti ketika kita terjatuh dan merasa sendiri/
saya ingin/
cinta menuntun kita untuk memperbaiki kualitas diri/
agar semakin dekat dengan rahmat Illahi yang mengucur tiada henti/
adakah itu makna cinta yang hakiki?/
saya ingin/
cinta sejati ada pada setiap hati/
yang tulus tanpa berharap pamrih duniawi/
saya ingin/
cinta/
salam hangat penuh cinta,
ries
---------------------------------------------------------------
untuk menulis cinta kita tidak harus sedang bercinta/
karena ketika bercinta, kita justru sering lupa segalanya/
mungkin sebagian orang ingin berendam dalam lautan cinta/
mereguk indah dan nikmatnya cinta/
saya gak../
kalau harus berendam cinta, saya takut terlena/
kalau harus mereguk cinta, saya kuatir kehabisan makna cinta/
saya ingin/
cinta ada sebagai ungkapan nafas semata/
yang menyemangati hati ketika kita melangkahkan kaki/
yang memberi dorongan arti ketika kita terjatuh dan merasa sendiri/
saya ingin/
cinta menuntun kita untuk memperbaiki kualitas diri/
agar semakin dekat dengan rahmat Illahi yang mengucur tiada henti/
adakah itu makna cinta yang hakiki?/
saya ingin/
cinta sejati ada pada setiap hati/
yang tulus tanpa berharap pamrih duniawi/
saya ingin/
cinta/
salam hangat penuh cinta,
ries
Tuesday, April 10, 2007
" Cinta-2 "
Seorang sahabat bertutur-kata tentang cinta. Sayapun cenderung meng-iyakannya, meski dengan cara yang berbeda dan cenderung bercanda. Kita semua memang berharap banyak akan cinta.
-----------------------------------------------------------
cinta/
satu kata yang mengandung jutaan rasa serta makna/
yang membawa hidup penuh duka n gelak tawa/
yang membuat kita pasrah ataupun bergairah/
cinta/
sebenarnya kamu ini milik siapa?/
semua orang mengagungkanmu/
semua orang tertunduk oleh pesonamu/
tapi kamu koq meradang saja, seolah semua orang bisa memilikimu/
cinta/
kamu dimana sih?/
semua orang mencarimu/
semua orang merindukanmu/
tapi koq kamu seolah sembunyi n sekedar menjadi bayang2 semu/
cinta/
kalau aku menghamba padamu/
masihkah kau berikan duka dan kesedihan?/
kalau aku bermohon untuk memilikimu/
masihkah kau sembunyi untuk tidak menghampiriku?/
kenapa kalau mencinta harus siap menderita/
kenapa kalau berharap kebahagiaan kau anggap aku memanfaatkan?/
kenapa ketika memberi kau anggap itu investasi?/
cinta/
kamu koq susah diraba sih/
katanya kamu ini ada pada setiap orang/
orang kaya ataupun miskin, orang cantik atau jelek, orang tua atau muda/
mestinya kamu sederhana saja dong/
jangan mbulet begini/
cinta/
Shakeasper pernah berteriak apalah arti sebuah nama/
seandainya namamu diganti bukan lagi cinta/
masihkah orang2 itu menyanjungmu?/
masihkan orang2 itu tergiur pesonamu?/
cinta/
teman diskusiku marah2/
cinta itu menyangkut makna bukan hanya nama, teriaknya/
digantikan apapun namanya, makna cinta tetap tak berubah selamanya/
wah,.. teman saya ini memang penyanjung cinta/
(saya takut jangan2 nanti dia jadi penjaja cinta juga)
tapi..../
dia tidak bisa mencinta kalau tidak memiliki/
karena itu namanya cuman persahabatan bukan percintaan/
dia juga tidak bisa bercinta kalau ada sahabat/
(hehe...kalau ini jelas ya)/
cinta/
kepalaku jadi pusing mikirin kamu/
koq kamu diam?/
cinta..../
jawab dong../
salam hangat penuh cinta,
ries
-----------------------------------------------------------
cinta/
satu kata yang mengandung jutaan rasa serta makna/
yang membawa hidup penuh duka n gelak tawa/
yang membuat kita pasrah ataupun bergairah/
cinta/
sebenarnya kamu ini milik siapa?/
semua orang mengagungkanmu/
semua orang tertunduk oleh pesonamu/
tapi kamu koq meradang saja, seolah semua orang bisa memilikimu/
cinta/
kamu dimana sih?/
semua orang mencarimu/
semua orang merindukanmu/
tapi koq kamu seolah sembunyi n sekedar menjadi bayang2 semu/
cinta/
kalau aku menghamba padamu/
masihkah kau berikan duka dan kesedihan?/
kalau aku bermohon untuk memilikimu/
masihkah kau sembunyi untuk tidak menghampiriku?/
kenapa kalau mencinta harus siap menderita/
kenapa kalau berharap kebahagiaan kau anggap aku memanfaatkan?/
kenapa ketika memberi kau anggap itu investasi?/
cinta/
kamu koq susah diraba sih/
katanya kamu ini ada pada setiap orang/
orang kaya ataupun miskin, orang cantik atau jelek, orang tua atau muda/
mestinya kamu sederhana saja dong/
jangan mbulet begini/
cinta/
Shakeasper pernah berteriak apalah arti sebuah nama/
seandainya namamu diganti bukan lagi cinta/
masihkah orang2 itu menyanjungmu?/
masihkan orang2 itu tergiur pesonamu?/
cinta/
teman diskusiku marah2/
cinta itu menyangkut makna bukan hanya nama, teriaknya/
digantikan apapun namanya, makna cinta tetap tak berubah selamanya/
wah,.. teman saya ini memang penyanjung cinta/
(saya takut jangan2 nanti dia jadi penjaja cinta juga)
tapi..../
dia tidak bisa mencinta kalau tidak memiliki/
karena itu namanya cuman persahabatan bukan percintaan/
dia juga tidak bisa bercinta kalau ada sahabat/
(hehe...kalau ini jelas ya)/
cinta/
kepalaku jadi pusing mikirin kamu/
koq kamu diam?/
cinta..../
jawab dong../
salam hangat penuh cinta,
ries
Subscribe to:
Posts (Atom)
BSG - BAB.V - AUP - Babak-16
BALADA SWANDARU GENI Bab V: Ajaran Untuk Pulang Babak – 16 Sebenarnyalah, malam hari itu menjadi sebuah malam yang tidak terlup...
-
Swandaru memejamkan matanya berusaha mengosongkan pikirannya agar bisa lebih tenang. Dalam keheningan malam menjelang pagi, ia bisa merasak...
-
Kulonuwun poro kadang sedoyo, khususipun kagem Ki Arema, nderek ijin posting sak cuil tulisan meniko, mugi kepareng… J BALADA SWANDAR...
-
“ Aku kira memang ini Glugut Pring Wulung “, - Ki Widura menjawab meskipun dengan sedikit ragu,” – memang gejala yang muncul masih belum n...