Saturday, April 1, 2017

BALADA SWANDARU GENI - Babak-7


Tengah malam sudah jauh terlewati, tetapi kegelapan masih begitu pekat menyelimuti langit kademangan Sangkal Putung. Terlebih mendung tipis yang awalnya bergelanyut kini tergantikan awan hitam yang berarak pelan seolah sedang menghimpun uap air untuk segera ditumpahkan sebagai hujan dan menyirami daerah yang subur ini.

Saat itu Agung Sedayu duduk bersila menghadapi dua buah jambangan yang terbuat dari tanah liat, sementara sedikit dibelakangnya, Ki Widura dan Ki Demang duduk di sebelah kanan dan kirinya.

Dua buah jambangan berisi air itu masing-masing dimasukkan beberapa babakan atau kulit pohon kelor selebar kurang lebih tiga jari dan diatasnya dipenuhi dengan serabut kelapa atau yang oleh kebanyakan orang di sebut sebagai sepet.

Tidak ada lagi bahan-bahan lain.

Sebenarnya, tidak banyak yang dilakukan Agung Sedayu. Setelah selesai menyiapkan ubo-rampe yang hanya terdiri atas dua jenis dan mudah ditemukan di sekitar, maka ia mengajak Ki Demang dan Ki Widura untuk memusatkan nalar budi dan memohon perlindungan kepada sesembahan Yang Maha Melindungi.

“Ayah Demang dan Paman Widura, “ – Agung Sedayu berkata lirih,” – Guru sering menasehati aku tentang sebuah keyakinan. Seberapapun banyaknya bekal dan tingginya ilmu yang kita miliki, tetapi sesungguhnya itu sangat tidak ada artinya di hadapan yang Maha Kaya dan Maha Tinggi. Di atas langit masih ada langit, tetapi jika kita selalu bersandar dan berlindung pada kuasa Yang Maha Melindungi, maka mudah-mudahan kita termasuk dalam kelompok umatNya yang di lindungi”

“ Inilah saatnya keyakinan kita di uji, marilah kita pusatkan nalar budi kita dengan niat untuk memohon perlindungan kepada Yang Maha Melindungi. Jangan ada keraguan sedikitpun atas perlindungan dari Yang Maha Kuasa, sedikit saja ada keraguan itu akan tidak baik bagi kita semua khususnya bagi adi Swandaru “

Ki Demang tidak menjawab dan hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Sementara Ki Widura tidak bisa menahan diri untuk bertanya.

“ Sedayu, apa yang akan kau lakukan dengan jambangan itu,” – tanyanya lirih.

Agung Sedayu tidak segera menjawab, melainkan memandang langit terlebih dahulu sambil menarik nafas dalam-dalam.

“ Paman,” – akhirnya ia menjawab dengan suara lirih,” – Aku dan Sekar Mirah pernah mengalami serangan Tunda Bantala meskipun tidak sedahsyat ini. Saat itu, aku tidak sadar dan tidak tahu bagaimana cara melawannya selain bersandar kepada kuasa Yang Maha Melindungi. Ilmu kebal dan ilmu cambukku tidak berarti “

“ Untunglah Ki Waskita bisa memberi petunjuk agar terhindar dari serangan ini di kemudian hari,” Agung Sedayu melanjutkan kalimatnya.

Baik Ki Demang maupun Ki Widura terlihat hanya termangu-mangu.

“Baiklah, kita tidak boleh terlambat. Marilah kita mulai permohonan kita”, - tiba-tiba Agung Sedayu dengan cepat mengambil posisi duduk bersila untuk memulai pemusatan nalar budinya.

Dengan sendirinya Ki Demang dan Ki Widura mengikuti.

Sebenarnyalah Agung Sedayu di karunia kemampuan mengingat yang luar biasa. Saat ia berniat untuk menyimpan sebuah pembicaraan ataupun isi sebuah kitab, maka dengan mudah ia akan memahatkannya dalam ingatan dan sewaktu-waktu bisa membukanya. Kini pembicaraan dengan Ki Waskita setelah kejadian di singkapnya Aji Tunda Bantala seolah-olah kembali terngiang jelas di telinganya.

“ Anakmas Sedayu “, - sambil menghela nafas Ki Waskita berkata,” – Bagi orang yang mempunyai keyakinan tebal akan kuasa Yang Maha Melindungi, maka Tunda Bantala tidak akan banyak berarti. Tetapi bagaimanapun juga ketidaksadaran akan datangnya serangan itu bisa memperlemah dan bahkan bisa berakibat fatal atas keadaan kita. Karena itu sesungguhnya sikap hati-hati dan waspada setiap saat sangatlah penting”

“ Cobalah untuk mengenali ciri-ciri dan keadaan sebagaimana yang pernah anakmas alami. Bukan ciri fisik seperti lemahnya kaki yang seolah tak bertulang atau kacaunya pikiran seperti yang di alami istrimu Sekar Mirah. Adalah penting untuk mengasah panggraitamu ngger, dan aku meyakini bahwa itu tidak sulit bagimu”

“Aku mohon petunjuk Ki Waskita”, suara Agung Sedayu terdengar lirih.

Ki Waskita tersenyum.

“ Begini anakmas, kau mungkin pernah melihat aku bisa membuat mainan bentuk-bentuk semu. Sesungguhnya aku malu untuk mengatakan, tetapi memang bentuk-bentuk semu itu tidak akan berpengaruh apapun terhadap lawan kita. Itu hanya bisa menipu anak-anak tetapi tidak bagi orang yang mempunyai mata batin dan panggraita yang tajam. Sebenarnyalah kepekaan dan panggraita itu itu sudah kau miliki ngger, hanya perlu sedikit laku tambahan agar hal itu bisa melekat dan bangkit dengan sendirinya ketika ada hal yang tidak wajar di sekitar kita”

“Disamping itu, ada hal yang aku ingin kau bisa mengingatnya apalagi kalau sempat mempelajarinya agar bisa terhindar dari serangan ilmu hitam seperti Tunda Bantala ini. Kita pernah melihat betapa ditangan seseorang yang linuwih, keris yang dipegang seolah bisa menyala, seseorang yang bersenjata selendang mampu membuat selendang itu kaku bagaikan lembaran kayu. Ia menyalurkan ilmu dan tenaga cadangannya sehingga sifat ilmunya bisa tersalur ke benda-benda yang dipegangnya atau dikehendakinya”

“ Lalu, bukankah kau juga mampu membuat cambuk lenturmu itu seperti tongkat kayu ngger?”
Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam tanpa menjawab pertanyaan Ki Waskita itu.

“Anakmas Sedayu”, - Ki Waskita melanjutkan,” – bukankan anakmas pernah melihat ada seseorang mampu membakar kulit lawannya dengan tangannya yang membara. Beberapa orang mampu menyerap kekuatan inti dari air, udara, api dan tanah. Bahkan bukankah kau pernah berhadapan dengan Ajar Tal Pitu yang seolah mampu menyerap kekuatan sinar rembulan?”

Agung Sedayu tidak menjawab melainkan menundukkan kepalanya dalam-dalam.

“ Itulah ngger, intinya cobalah masuk ke kedalaman dan aku yakin dengan bekalmu yang sekarang, hal itu tidak sukar. Dengan sedikit laku dan makan beberapa empon-empon terpilih, maka kau akan mampu menyalurkan dan membenamkan kekuatan ilmumu ke benda-benda tertentu. Itu bisa sebagai alat bertahan atau menyerang dan bahkan terhadap kekuatan yang tidak kau lihat tetapi harus kau sadari ”

“ Apakah aku mampu Ki Waskita ?”, - tanya Agung Sedayu.

Waktu itu terlihat Ki Waskita tersenyum.

“ Aku mengenalmu ngger, cobalah. Jika itu sudah kau kuasai, aku ingin menitipkan sebuah ilmu yang di sebut Ajian Jaring Seto “

“ Aji Jaring Seto? “

Salam,

BALADA SWANDARU GENI - Babak-6


Mata Ki Among Rogo menjadi merah menakutkan, sementara senyum sinis yang biasanya selalu menghiasi bibir Ki Among Roso sudah lenyap bagai tersaput angin.

“Among Roso”,-suara Ki Among Rogo terdengar berat dan terdengar agak ragu,-“ Apakah kau yakin kita harus menggunakan Aji Susuhing Bantala? Kita belum puasa mutih, apalagi pati geni”
Terdengar gemeretak gigi Ki Among Roso menahan amarah.

“Tidak ada pilihan lain kakang, waktu kita tidak banyak. Kita sudah di rumah ini hampir lima hari dan mungkin tetangga cecurut yang baru saja mati itu akan datang mencari. Masih ada waktu, kita harus selesaikan pekerjaan malam ini juga. Kita ganti laku mutih dan pati geni itu dengan darah kita!”

Ki Among Rogo mendengus keras, ia tidak lagi menjawab atau membantah. Selama ini meskipun ia adalah saudara tua, tetapi adiknya atau Ki Among Roso itulah yang lebih banyak mengambil keputusan karena ia mengakui kecerdikan dan kelicinannya.

Kedua orang saudara seperguruan itu tidak lagi banyak bicara melainkan segera menyiapkan peralatan dan ubo-rampe yang diperlukan. Meskipun langit masih tersaput mendung tipis, tetapi mereka bisa memperkirakan bahwa bintang gubug penceng masih belum banyak bergeser, sehingga fajar masih agak lama.

Selama petualangan mereka di dunia hitam, ini akan menjadi kali ketiga dalam menggunakan aji andalan perguruan mereka untuk melawan musuh yang tangguh. Korban terakhir mereka adalah dari sesama golongan hitam yang harus menerima kenyataan ketika akhirnya tubuhnya lumpuh dan membusuk dengan cepat sebelum nyawanya melayang.

Mereka menggeser beberapa perabot rumah yang memang tidak banyak itu menepi. Agaknya diperlukan tempat yang lebih luas untuk menerapkan ajian andalan mereka.

Selanjutnya peralatan dan ubo-rampe itupun digelar diatas tikar, sebuah tampah agak besar berisi beberapa jenis bunga kering, anglo menyala yang ditaburi kemenyan, kendi berisi air yang sudah bercampur dengan bulu kucing hitam dan putih serta dua buah keris kecil yang berwarna kemerahan akibat diletakkan dekat anglo sehingga terlihat bersinar.

Masih ada beberapa benda yang bertebaran di atas tikar itu dan terlihat aneh serta tidak di mengerti oleh kebanyakan orang. Terlihat beberapa bungkus kain terbuka yang berisi bubuk, entah itu bubuk dari tulang atau mungkin bercampur dengan tanah pekuburan. Empat buah telur busuk, dua buah carang bambu pendek penuh cabang serta gulungan rambut diletakkan di pinggiran tikar itu.

Disamping kedua orang itu masing-masing tergeletak mangkuk kosong terbuat dari besi kuningan.
Setelah ubo rampe dirasa lengkap, kedua saudara seperguruan itu segera duduk bersila dan kembali tenggelam dalam gumam mantra-mantra. Sambil menahan nafas, kini kedua tangan mereka melakukan gerak putaran dan terkadang memukul udara kosong ke atas berulang kali.

Nampaknya ini adalah gerak untuk membuka cakra atau simpul-simpul dalam tubuh mereka sebagai landasan penerapan Aji Susuhing Bantala.

Kedua orang itu terus bergerak dan dalam waktu yang terhitung pendek, tubuh kedua orang itu sudah bersimbah peluh. Tetapi hal itu justru membuat gerak mereka semakin cepat dan bahkan kini mulai di ikuti geraman keras.

Letak rumah yang jauh dari tetangga agaknya sudah diperhitungkan sehingga mereka tidak perlu menahan diri lagi.

Suasana semakin menegangkan ketika sambil menggeram, tangan kedua orang itu secara bergantian mencampur dan mengaduk aneka bunga kering yang ada di tampah itu. Telur di pecah, bubukan di tabur, gulungan rambut di tebar lalu diaduk menggunakan carang bambu. Kini mereka menggunakan carang bambu yang penuh cabang itu untuk mengaduk. Adukan itu dilakukan dengan cepat dengan membentuk lingkaran dari arah kiri ke kanan dan tidak pernah sebaliknya.

Sekejab kemudian, hampir berbarengan mereka memecahkan kendi yang berisi air dan bulu kucing itu diatas tampah sehingga hampir menggenang. Mereka masih mengaduk isinya dan mengumpulkannya di tengah tampah sehingga membentuk gundukan.

Ketika air sudah menyusut, tangan Ki Among Roso menyambar anglo dan kemenyan yang menyala itu dan menumpahkannya di atas gundukan campuran ubo-rampe itu.

Terdengar suara mendesis panjang akibat bercampurnya arang membara dengan bahan campuran yang masih basah.

Setelah saling bertukar pandang sejenak, hampir bersamaan tangan kedua orang itu kemudian mengambil masing-masing sebilah keris kecil yang kemudian tergenggam di tangannya.

Tanpa keraguan sedikitpun keduanya kemudian menggoreskan keris itu ke lengan kiri masing-masing. Tiga goresan berturut-turut dan cukup dalam. Darah segera mengucur deras dan mereka menampungnya ke dalam mangkuk yang terbuat dari besi kuningan.

Sambil menekan-nekan tangan agar darah lebih cepat mengalir, mulut mereka masih tetap menggumamkan mantra-mantra.

Sebuah pemandangan yang mengerikan.

Pelan-pelan mangkuk itu terisi darah merah meskipun belum terlalu kental. Tidak sampai setengah penginangan mangkuk sudah terisi penuh dan kedua saudara seperguruan itu segera menancapkan keris kecil itu di gunungan ubo-rampe yang ada di tampah.

Kini mereka saling bertukar mangkuk, sehingga mangkuk yang berisi darah Ki Among Rogo di pegang oleh adiknya Ki Among Roso. Demikian sebaliknya.

Kini keduanya menghadap ke gunungan yang ada di tampah itu sambil terus menggumamkan mantra-mantra. Sekejab kemudian, mereka menenggak isi mangkuk kuningan itu ke dalam mulutnya, berkumur-kumur dan kemudian menyemburkannya ke arah gunungan dimana tertancap dua keris kecil di bagian atasnya.

Demikian dilakukan berulang kali sampai darah dalam mangkuk kuningan itu habis. Bahkan pada kumuran dan semburan terakhir, sebagian darah itu mereka telan masuk ke tenggorokannya.

Cairan darah itu muncrat kesegala arah dan sebagian membasahi baju yang mereka kenakan. Mulut kedua orang itu terlihat merah dan bahkan sebagian wajah merekapun terciprat oleh darah.
Siapapun yang melihat pemandangan ini pastilah bergidik.

Sesaat kemudian, Ki Among Roso membungkuk dan memukul tanah dengan tangan kanannya sebanyak tiga kali, sementara Ki Among Rogo justru menghentakkan kaki kanannya ke tanah juga tiga kali.

“ Sekarang! ”

Salam,

BALADA SWANDARU GENI - Babak-5


Dalam kegelapan malam yang pekat Ki Among Roso masih melihat bayangan hitam yang berlari menjauh itu tersungkur dan mengeluh pendek.

“ Dasar tidak tahu di kasihani, sekarang matilah kau,” – Ki Among Roso mengomel panjang-pendek dan bermaksud melangkah turun tludakan untuk melihat korbannya. Tetapi sebelum kakinya melangkah lebih jauh, ia mendengar suara saudara tuanya berteriak memanggil namanya sambil mengumpat keras.

“ Benar-benar anak iblis “, - terdengar suara Ki Among Rogo yang cempreng dan keras, -“ Among Roso, cepat kesini, tinggalkan cecurut itu. Bantu aku, agaknya kita berhadapan dengan gembong iblis!”

Terpaksa Ki Among Roso membatalkan niatnya untuk melihat korban lemparan pisaunya. Ia merasa heran dan penasaran dengan teriakan saudara tuanya yang terdengar gugup. Biasanya pekerjaan mereka berjalan lancar meskipun dikerjakan sendiri-sendiri, apalagi kini landasan untuk menyerang sudah mereka lakukan bersama-sama sehingga menimbulkan kekuatan ganda yang jauh lebih besar.
Sambil melangkah mendekat, Ki Among Roso melihat wajah saudara tuanya begitu tegang dan memangdangi jambangan atau bejana air di depannya.

“ Gila!”, - tiba-tiba Ki Among Roso ikut berteriak dan mengumpat,-“Apa yang terjadi?”
Ki Among Rogo tidak menjawab, matanya tidak lepas dari air di dalam jambangan yang tiba-tiba terlihat bergolak. Awalnya air itu hanya berputaran di bagian pinggir, semakin lama semakin cepat sehingga terjadilah semacam pusaran di dalam bejana itu. Semakin lama semakin kuat.

Wajah kedua orang bersaudara itu terlihat tegang, mereka sadar agaknya korban mereka sedang melakukan perlawanan dan merupakan seseorang yang berkemampuan tinggi sehingga mampu memutar dan membuat gelombang air di dalam bejana.

“Among Roso, apakah Swandaru itu memang memiliki kemampuan iblis?”, - Among Rogo setengah berteriak.

“Tidak mungkin kakang,”- Ki Among Roso menjawab sambil melihat keadaan sekeliling,” Lihat, ublik sebelah kiri diatas dipan itu nyalanya tetap kecil seperti kemarin. Pasti ada seseorang yang sedang membantunya,”

Sebagai orang yang berpengalaman dan sangat menguasai ilmunya, kedua orang itu segera sadar bahwa agaknya mereka harus bekerja lebih keras untuk bisa berhasil.

Segera Ki Among Roso duduk bersila di sebelah kakaknya dan menghadapi bejana air yang sedang bergolak. Sambil terus menggumamkan mantra Ki Among Rogo mengambil dan membuka sebuah bungkusan dari sakunya, demikian pula dengan saudaranya Ki Among Roso.

Bungkusan di kedua tangan dua orang saudara seperguruan itu berupa bubuk, satu berwarna hitam dan satu lagi berwarna putih sebagaimana ciri masing-masing sesuai pakaiannya.

Sebenarnyalah bungkusan itu berisi darah dari ayam cemani yang sudah dikeringkan dan dicampur dengan pasir besi. Mereka jarang sekali menggunakannya kecuali korbannya memiliki kemampuan tinggi untuk melawan seperti kali ini.

Ketika melihat pusaran air dalam bejana itu melambat, segera secara bergantian mereka melempar dan memasukkan bungkusan itu ke dalam bejana berisi air reramuan itu. Kedua tangan mereka kini terentang sedikit melebar ke depan dengan telapak tangan menghadap ke bejana itu. Sambil terus menggumamkan mantra, tangan mereka bergetar naik-turun untuk menyalurkan kekuatan batin agar air dalam bejana itu bisa kembali tenang.

Air itu dalam bejana yang tadi bergolak kencang kini perlahan-lahan kelihatan lebih tenang. Kedua orang itu terlihat mengendalikan dan memusatkan serangan mereka. Tetapi itu tidak lama terjadi, karena kekuatan yang tidak mereka kenal itu tiba-tiba saja mampu menggoyang air itu sehingga kembali bergolak.

Demikianlah, pertarungan yang aneh itu berlangsung untuk waktu yang cukup lama. Meskipun udara diluar dingin tetapi tubuh kedua orang bersaudara seperguruan itu mulai dipenuhi oleh keringat, apalagi ruangan itu sudah dipenuhi asap dan aroma kemenyan yang menyengat. Hal ini membuat hati mereka panas dan semakin meningkatkan kemampuan mereka.

Seolah saling berjanji tiba-tiba saja tangan mereka kini bergandengan dan saling menggenggam.
Tangan kanan Ki Among Roso menggenggam tangan kiri kakaknya Ki Among Rogo. Sementara tangan mereka lainnya yang bebas terlihat bergetar keras sambil tetap melakukan gerakan naik-turun. Agaknya mereka sedang menggabungkan kekuatan yang ada dalam diri mereka untuk bisa menyerang dengan lebih kuat. Genggaman tangan itu terlihat semakin kuat, seiring keras dan cepatnya mereka dalam menggumamkan mantra.

Untuk beberapa saat keadaan tidak banyak berubah, tetapi kedua orang itu tidak gampang menyerah dan justru meningkatkan serangan semakin keras.

Sekitar sepenginangan, akhirnya mereka melihat pusaran air dalam bejana itu berangsur-angsur menjadi berkurang.

“Among Roso”, - suara Ki Among Rogo terdengar serak berat,- ”Agaknya kita berhasil”

Ki Among Roso tidak menjawab, keningnya terlihat berkerut sambil matanya tidak lepas dari isi bejana yang sudah tidak bergolak keras seperti tadi. Ketika pusaran air itu benar-benar hampir berhenti, tiba-tiba ia kembali mengumpat keras.

“Benar-benar anak setan”,- suaranya melengking,-“Belum kakang, lihat, jambe itu masih ada didalam jambang”

Ki Among Rogo terkejut, selama ini ia memang mengakui bahwa adiknya itu jauh lebih teliti dibanding ia yang ceroboh. Kini ia melihat betapa jambe yang birisi sebuah jarum emas itu memang masih tetap berada di dalam jambangan. Sementara ketika ia melihat ublik di sampingnya, nyalanya juga tidak banyak berubah.

“ Gila! “

Kedua orang saudara seperguruan itu saling berpandangan sambil menggeram. Baru kali ini mereka menghadapi perlawanan yang begitu keras.

“Kakang Among Rogo, agaknya lawan kita cukup mengerti ilmu kita. Tidak ada jalan lain, kita selesaikan dengan Aji Susuhing Bantala”, suara Ki Among Roso terdengar bergetar menahan kemarahan.

“Iblis!”

Salam,

BALADA SWANDARU GENI - Babak-4

Nyuwun duko poro kadang, mungkin ada kemiripan dengan cerita asli dari Ki SHM, tetapi insya Allah ini hanyalah batu loncatan ke alur cerita berikutnya. Sembah-nuwun,
*****

Meskipun tidak terucapkan, Ki Widura yang berdiri di sebelah Agung Sedayu dapat merasakan betapa keponakannya itu sedang diliputi amarah meskipun dengan cepat berusaha meredamnya lagi. Perubahan mimik wajah Agung Sedayu yang demikian cepat, diikuti desisan lirih itu menggambarkan perasaannya.

Sambil memeriksa dan membersihkan lincak bambu dimana Swandaru kemarin terjatuh, Agung Sedayu minta agar Ki Demang menyuruh pembantunya menyediakan beberapa peralatan yang ia sebutkan.

Ki Demang langsung beranjak menemui pembantunya, meskipun benaknya diliputi tanda tanya, tetapi ia percaya bahwa menantunya itu sedang mengupayakan pengobatan bagi Swandaru. Ia berusaha secepatnya bisa menyediakan apa yang diminta Agung Sedayu.

“Sedayu, apakah yang sebenarnya terjadi,” – Ki Widura bertanya setengah berbisik.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam, -“Paman Widura, cobalah paman pusatkan nalar budi sejenak dan tutuplah kesembilan lubang di tubuh kita sebagaimana pernah diajarkan Guru. Cobalah paman kenali suasana malam ini, apakah paman merasakan keanehan”

Ki Widura mengerutkan keningnya sambil memandang keadaan sekeliling. Tanpa banyak bertanya ia langsung duduk di tanah dan mengambil sikap bersila. Ditegakkannya punggung dan ditutupnya sembilan lubang dalam tubuhnya sementara kedua tangannya bersedekap di depan dada.

Sejenak Ki Widura sudah tenggelam dalam pemusatan nalar budinya. Ia diam seolah tidak bernafas karena ke sembilan lubang di tubuhnya telah di tutup rapat.

Ki Demang yang kemudian datang mendekat terheran-heran melihat Ki Widura duduk bersila tidak bergerak, sementara Agung Sedayu hanya berdiri sambil sesekali mengangkat wajah melihat langit yang disaput mendung tipis. Tetapi Ki Demang memilih diam tidak bertanya, ia hanya mendekat dan ikut berdiri di sebelah menantunya itu.

Tidak lama kemudian Ki Widura sudah membuka matanya, meskipun hanya sejenak tetapi keningnya sudah berkeringat.

Dengan gugup, ia bertanya, - “ Sedayu, apakah sebenarnya yang terjadi? Aku melihat badai itu, bergulung-gulung seperti ombak yang menghantam pantai susul menyusul. Sementara langit menggelap tetapi dipenuhi suara ledakan besar, kecil, susul menyusul, sangat mengerikan” –

Ki Widura mengusap peluh di keningnya, sementara wajah Agung Sedayu terlihat serius. Ki Demang yang baru saja datang mencoba mencerna pembicaraan mereka.

“Ayah Demang dan paman Widura”, - berkata Agung Sedayu lirih,- ” Agaknya adi Swandaru sedang di serang dengan ilmu hitam yang sejenis dengan Tunda Bantala”, -

“ Tunda Bantala?”,- Ki Demang dan Ki Widura mengulangi itu hampir bersamaan.

“ Ya, Tunda Bantala ”, - sahut Agung Sedayu yang kemudian melanjutkan kalimatnya, -” Meskipun masih perkiraan, tetapi aku yakin bahwa ilmu sejenis inilah yang sekarang menyerang adi Swandaru. Seharusnya pengaruhnya tidaklah sehebat ini, tetapi mungkin keadaan mental adi Swandaru sedang goncang saat diserang sehingga dengan mudah ia ambruk. Atau ilmu hitam ini memang berkekuatan teramat dahsyat, lebih kuat dari apa yang pernah aku alami dengan Sekar Mirah ketika di Menoreh dulu”

Ki Demang termangu-mangu, semuanya sungguh diluar pemikirannya. Dari kalimat terakhir Ki Demang maupun Ki Widura menyadari bahwa Agung Sedayu dan bahkan bersama Sekar Mirah pernah mengalami atau menghadapi ilmu hitam ini.

“Lalu…apa yang harus kita lakukan ngger?,” suara Ki Demang terbata-bata.

Agung Sedayu tidak segera menjawab pertanyaan Ki Demang, tetapi ia kemudian berkata lirih, -“Ayah Demang, mintalah Pandan Wangi dan Sekar Mirah untuk membisikkan doa pujian atas kebesaran dan kuasa Yang Maha Tunggal di telinga adi Swandaru secara terus menerus tanpa henti. Aku yakin adi Swandaru bisa mendengar meskipun ia mungkin belum sanggup untuk menirukan ataupun menyahut. Sementara itu apakah peralatan yang tadi aku minta sudah tersedia?”

Ki Demang Sangkal Putung tergagap.

*****

Sementara itu disebuah rumah yang letaknya terpencil beberapa petak dari ujung bulak panjang, aroma kemenyan menebar begitu kuat. Selain bau yang menyengat, ruangan itu hampir dipenuhi asap dupa, dua lampu minyak diletakkan di sebuah dipan di sudut ruangan.

“Kakang Among Rogo, sebaiknya pekerjaan ini kita selesaikan sekarang juga,”- berkata seorang yang berwajah tirus dan bersih dengan jenggot yang jarang tetapi panjang. Tubuhnya tinggi kekurusan dan dibalut dengan pakaian dan ikat kepala warna putih. Dari bibirnya selalu tersungging senyuman sinis yang membuat lawan bicaranya seolah merasa di ejek.

Orang yang disebut Among Rogo itu mendengus keras, wajahnya yang bulat dipenuhi rambut berewokan dengan bibir yang tertutupi kumis lebat. Perawakan tubuhnya sedikit pendek gempal alias melebar dengan otot-otot yang menonjol. Ia selalu mengenakan warna hitam termasuk ikat kepalanya. Sungguh berkebalikan dengan kawannya karena Ki Among Rogo ini wajahnya tidak pernah sekalipun menyunggingkan senyum. Terlalu menyeramkan.

Satu kesamaan dari kedua orang ini adalah kalung yang dikenakan, yaitu sebuah tali warna hitam dimana bandul yang dikaitkan adalah semacam tulang berbentuk taring.

“Among Roso”, - suara Among Rogo terdengar berat, serak dan menyakitkan telinga, - “sebaiknya kau tidak usah terlalu banyak omong. Segera kau kerjakan bagianmu, aku sudah menggarap tubuh fisiknya. Sekarang mari kita kirim serangan bersama-sama dan kedua kaki anak itu akan lumpuh dan tidak bisa dipakai lagi”

Senyum sinis tersungging di bibir Among Roso dan diikuti suara tertawa sumbang yang tidak terlalu keras.

“ Baiklah, kini bagianku untuk melemahkan jantungnya,” – suaranya kini terdengar berat menekan,-“ Aku akan mengirim cukup satu jarum emas ini agar Swandaru tidak langsung mati. Biarlah dia hidup di pembaringan dan menyesali perbuatannya karena telah mengkhianati keponakan Kanthil Kuning yang bernama Wiyati itu. Meskipun aku tidak mengenal Wiyati, tetapi bahwa Kanthil Kuning saudara angkat kita mati itu adalah karena pokal Swandaru,”

Ki Among Rogo hanya mendengus berat tanpa menyahut sepatah katapun.

Mereka berdua kemudian duduk bersila menghadapi sebuah bejana yang dalamnya berisi air yang telah dicampur dengan bunga dan reramuan. Tangan Ki Among Roso terjulur meraup segumpal kemenyan dan melemparkannya ke perapian sehingga semakin menyala dengan bau yang lebih tajam.

Sambil menggumamkan mantra-mantra, Ki Among Roso menyiapkan sebuah jambe yang sudah dibelah dan ditengahnya kemudian ia memasukkan sebuah jarum emas. Mata mereka sebentar terpenjam lalu terbuka lagi untuk memeriksa keaadaan air dan isi dalam bejana itu sambil terus membaca mantra-mantra.

Ketika merasa saatnya tiba, Ki Among Roso segera melemparkan jambe berisi jarum emas itu ke dalam bejana yang berisi air dan reramuan. Kembali mereka berdua memejamkan matanya dan membuka lagi untuk melihat isi bejana sambil terus menggumamkan mantra semakin kencang dan keras.

Malam itu suasana di bulak panjang di pinggir padukuhan Menganti terasa hening sebagaimana malam-malam sebelumnya.

Tetapi, tidaklah demikian dengan suasana rumah yang tidak jauh dari bulak itu. Rumah itu diliputi dengan ketegangan dan suasana yang menyeramkan yang sulit di ungkapkan dengan kata-kata.

Dalam ketegangan itu, tiba-tiba telinga Ki Among Roso menangkap gerak kaki yang diseret menjauhi rumah menuju halaman belakang. Gerakan itu begitu pelan dan hati-hati, tetapi mampu ditangkap oleh telinga Ki Among Roso.Tak ayal ia mengumpat sambil beranjak keluar rumah.

“Setan alas, apakah kau memang mau mati? Nih, terimalah pisau terbang beracunku!”

Sebuah pisau kecil berwarna kehitaman menyambar secepat tatit.

Salam,

BALADA SWANDARU GENI - Babak-3


Pagi itu rumah Ki Demang Sangkal Putung diliputi ketegangan yang luar biasa akibat keadaan Swandaru. Pandan Wangi sebenarnya masih terlelap, tetapi simpul syaraf dan pendengarannya yang tajam sempat menangkap jerit Swandaru yang kemudian diikuti suara jatuhnya tubuh suaminya itu.
Dengan cepat ia melompat keluar dan matanya terbelalak ketika menemukan tubuh Swandaru terbaring di tanah depan lincak bambu, diam tak bergerak.

Betapapun terkejutnya hati Pandan Wangi, tetapi ia berusaha untuk bisa berpikir jernih. Ia tidak langsung mendekat dan menolong suaminya melainkan berteriak membangunkan seisi rumah, sementara Pandan Wangi sendiri justru melangkah dengan hati-hati mengelilingi halaman rumah untuk memeriksa keadaan.

Meskipun saat ini ia tidak mengenakan pakaian khususnya, tetapi ia telah berlatih untuk menghadapi keadaan genting seperti saat ini. Ditelitinya setiap sudut halaman dan dicermatinya jejak-jejak tanah yang mungkin bisa memberi petunjuk. Dipusatkannya segenap panca indra untuk bisa menangkap hal-hal yang diluar kewajaran.

Mendadak wajah Pandan Wangi menegang, meskipun matanya tidak menangkap sesosok bayangan dan telinganya tidak mendengar suara-suara yang mencurigakan, tetapi panggraitanya merasakan ada sesuatu yang tidak wajar. Entah mengapa detak jantungnya tiba-tiba saja berdegup dengan kencang. Ia tidak tahu apa sebabnya dan bermaksud melesat keluar pagar untuk memeriksa keadaan lebih jauh.
Tetapi Pandan Wangi terpaksa membatalkan niatnya untuk mengurai pertanda itu ketika terdengar suara Ki Demang yang memanggil namanya dengan gugup.

“ Wangi, cepat kesini!! ”

Dengan sedikit kesulitan tubuh gemuk Swandaru telah diangkat masuk ke dalam dan diletakkan di pembaringan. Dengan gugup Pandan Wangi memeriksa keadaan suaminya, wajahnya terlihat pucat seolah tidak teraliri darah, sementara tubuhnya terasa dingin dan lemas. Ia masih bisa merasakan detak jantung suaminya meskipun teramat lemah.

“Apa yang terjadi denganmu kakang Swandaru”, - suara Pandan Wangi terisak.

Yang tidak kalah gugupnya adalah Ki Demang Sangkal Putung. Sambil berteriak ia menyuruh pembantunya untuk berlari menjemput Ki Sono, tabib Kademangan yang sering menjadi langganan warga Kademangan. Sepengetahuan Ki Demang, Swandaru tadi malam tidak mengalami suatu apapun. Bahkan ia sempat melihat Swandaru bergurau sebentar dengan anaknya sebelum kemudian masuk ke gandok untuk beristirahat.

Kini di pagi-pagi buta, didapatinya Swandaru terbaring lemah tiada daya.

Ki Sono yang datang tidak lama kemudian berusaha untuk memeriksa keadaan tubuh Swandaru dengan teliti. Dengan perlahan digerakkannya tangan Swandaru naik turun sambil memeriksa denyut nadinya. Sementara ia meminta Pandan Wangi untuk menitikkan cairan obat yang sudah disiapkannya ke dalam tenggorokan Swandaru setitik demi setitik.

Tidak bisa disembunyikan lagi betapa wajah-wajah di dalam ruangan itu menjadi sangat tegang. Ki Sono melakukan pemijatan di simpul-simpul yang sejauh pengetahuannya merupakan penghubung dengan saraf otak. Tetapi mengingat kondisi Swandaru yang belum sadar, ia terpaksa melakukannya dengan hati-hati dan sangat pelan.

Ketika matahari naik sepengalah, terdengar suara Swandaru merintih. Agaknya bau wewangian yang di oleskan di bawah dihidungnya bisa membuatnya sedikit sadar. Tetapi mata Swandaru masih terpejam dan kesadarannya masih belum pulih sama sekali. Nafasnya mulai sedikit teratur tetapi ia masih belum bisa di ajak bicara.

Dalam kebingungan itu tiba-tiba Pandan Wangi teringat pada Agung Sedayu. Ia tidak tahu alasannya, tetapi Pandan Wangi yakin bahwa seandainya Agung Sedayu ada di ruangan ini ia pasti tahu apa yang harus dilakukannya.

“Ayah”, - bisiknya kepada Ki Demang, - “Apakah tidak sebaiknya kita kabari kakang Agung Sedayu atau paling tidak Ki Widura yang di Jati Anom agar datang ke Sangkal Putung segera. Aku yakin mereka bisa membantu penyembuhan atau memecahkan penyebab sakitnya kakang Swandaru”

Ki Demang mengerutkan dahinya, sebelum kemudian mengangguk cepat sambil melangkah keluar gandok. Segera di perintahkannya dua orang pengawal untuk menuju ke Padepokan Jati Anom dan dua orang pengawal lainnya menuju ke Tanah Perdikan Menoreh.

“Ceritakan apa adanya tentang keadaan Swandaru dan mintalah Ki Widura dan angger Agung Sedayu agar secepatnya menengok keadaan di Sangkal Putung”, - suara Ki Demang terdengar bergetar, -“ Aku minta percepatlah perjalanan kalian, jangan banyak beristirahat. Keadaan Swandaru sangat mengkhawatirkan”

“ Baik Ki Demang “, - kedua pengawal itu menjawab dengan cepat sambil megundurkan diri untuk mengambil kuda-kuda yang mereka perlukan dalam perjalanan.

***

Lewat tengah malam, Agung Sedayu dan Sekar Mirah sudah memasuki halaman rumah Ki Demang Sangkal Putung. Sementara Ki Widura sudah tiba sejak sore dan sengaja menginap untuk menunggui Swandaru serta kedatangan Agung Sedayu.

“Ayah, bagaimana keadaan kakang Swandaru”, - sambil turun dari kudanya suara Sekar Merah bernada kuatir.

Sebelum Ki Demang sempat menjawab, terdengar suara Pandan Wangi yang berlari keluar menyongsong kedatangan Sekar Mirah sambil terisak-isak.

Dada Sekar Mirah semakin berdebar kencang, tetapi ia berusaha menenangkan Pandan Wangi sambil melangkah masuk ke dalam rumah. Sementara sebelum Agung Sedayu sempat menyapa, ternyata Ki Demang sudah mengajaknya menuju gandok dimana Swandaru terbaring.

Ki Widura yang juga hadir bahkan belum sempat menyapa keponakannya itu. Tetapi mengingat keadaan yang begitu genting, ia tidak menyela dan memilih diam sambil mengikuti dari belakang. Di gandok itulah Swandaru masih terbaring dan belum sadarkan diri sejak dini hari tadi.

Ketika Pandan Wangi dan Sekar Mirah sudah memasuki gandok dimana Swandaru terbaring, mendadak Agung Sedayu menghentikan langkahnya. Ia membatalkan niatnya untuk ikut masuk ruangan dan bahkan kemudian mengajak Ki Demang dan pamannya untuk kembali ke halaman.

“Ki Demang dan paman Widura, marilah kita kembali ke halaman, agaknya ada sesuatu yang harus kita lakukan,”- lalu sambil memberi isyarat ia berkata,” Mirah dan Pandan Wangi, sebaiknya kalian tetap ada di dalam dan jagalah adi Swandaru. Berusahalah untuk menenangkannya"

Tanpa menunggu jawaban kedua perempuan itu, Agung Sedayu langsung membalikkan badan dan melangkah dengan cepat menuju halaman samping. Untuk sesaat hatinya menjadi pepat dan dipenuhi rasa marah, tetapi setelah beberapa kali menarik nafas dalam-dalam Agung Sedayu kembali tenang.

“Aku harus melakukan sesuatu”, desisnya lirih.


Salam,

BALADA SWANDARU GENI - Babak-2

Swandaru memejamkan matanya berusaha mengosongkan pikirannya agar bisa lebih tenang. Dalam keheningan malam menjelang pagi, ia bisa merasakan rabaan angin dingin mengusap segenap pori-pori tubuh, memberikan kesejukan. Meski dikejauhan, telinganya masih bisa menangkap suara cengkerik dan belalang yang mewarnai suasana saat itu.

“Anak-anakku, tidak ada lagi yang bisa aku ajarkan kepada kalian berdua. Meskipun masih ada beberapa hal yang mungkin belum kalian pelajari,  tetapi dasar-dasar ilmu yang ada di kitab ini sudah kalian miliki semuanya. Inilah saatnya kalian berdua harus lebih mandiri, siapa yang bersungguh-sungguh akan bisa menguasai ilmu yang ada di kitab ini dengan baik. Bacalah, resapilah dan latihlah…..masuklah ke kedalalaman jangan hanya berhenti di permukaan. Aku tentu masih bisa memberi beberapa petunjuk jika kalian memerlukan, tetapi ubuhku sudah semakin ringkih dan aku tidak bisa selalu mendampingi kalian berdua setiap saat”, - suara dan pesan gurunya serasa kembali mendesing tajam di telinga Swandaru yang masih memejamkan matanya itu.

“Guru…” kembali ia bergumam.

Ia bergeser ke halaman samping lalu duduk dengan menghenyakkan tubuhnya ke sebuah lincak bambu sehingga menimbulkan suara berderit. Tidak ada niatnya untuk segera masuk ke rumah dan menghabiskan sisa malam untuk beristirahat dan berbaring.

“Tidak mungkin Guru pilih kasih dengan lebih memperhatikan kakang Agung Sedayu. Aku tahu sifat Guru… lalu apakah artinya ‘masuk ke kedalaman dan jangan berhenti hanya di permukaan?’ Apakah aku selama ini hanya ada dipermukaan sementara kakang Sedayu sudah jauh ke kedalaman dan bahkan menyelam?”

Berbagai pikiran dan angan-angan berkecamuk di kepala Swandaru Geni. Meskipun ia tidak melakukan gerakan fisik yang menguras tenaga, akan tetapi tidak terasa pagi itu tubuhnya basah oleh keringat…agaknya hati dan pikirannya lebih lelah. Selama ini Swandaru memang lebih banyak menggunakan perasaan dan gerak fisiknya. Jarang sekali ia menggunakan nalar dan hatinya sehingga saat-saat seperti sekarang ini ternyata cukup berat baginya.

Swandaru menundukkan kepalanya, sambil duduk bersila ia berusaha menangkan diri. Memandangi kedua kakinya yang kokoh dan juga tangannya yang selama ini telah ia latih dengan tekun sehingga mampu memecahkan batu besar dengan sekali pukul.

“Apakah tubuhku yang gemuk ini menandakan kurangnya keprihatinanku dalam melakukan olah rasa dan memperdalam ilmu kanuragan”, - kembali ia mendesah.

Tidak bisa disangkal betapa selama ini porsi makan Swandaru hampir dua kali lipat dari kebanyakan orang pada umumnya. Terlebih sebagai anak seorang Demang yang kaya raya, menu yang di santapnya lebih banyak berupa daging dan ikan yang menjadi kegemarannya. Ia merasa menu itu memberi tenaga dan kekuatan bagi fisiknya.

Tetapi Swandaru merasa bahwa itu adalah hal yang pantas karena apa yang dia lakukan selama ini juga lebih berat dibandingkan kebanyakan orang. Ia berlatih lebih keras untuk perkembangan dirinya disamping harus berkeliling pula dan melatih kanuragan para pengawal Kademangan. Ia menghabiskan banyak tenaga sehingga adalah pantas jika harus mengimbanginya dengan menu makan yang layak.

Mata Swandaru terlihat redup, berbagai bayangan melintas simpang siur di benaknya sehingga ia kembali memilih menutup matanya. Ditegakkannya punggung dan dalam posisi duduk bersila, di ingatnya kembali ajaran semedi dari gurunya, Kiai Gringsing. Melakukan semedi adalah hal pertama yang di ajarkan gurunya saat mereka berdua belajar kanuragan, hanya saja saat itu Swandaru merasa semedi ini tidak menarik untuk selalu di latih. Ia lebih senang bergerak, meloncat dan melakukan gerak latihan fisik saat itu.

Swandaru mengatur nafasnya pelan-pelan dan lembut, ia tidak langsung melawan dan menghilangkan bayangan-bayangan yang datang silih berganti itu mengisi benaknya. Jika hal itu ia lakukan maka hanya akan mendatangkan pusing di kepalanya.

Diikutinya bayangan-bayangan yang sepintas datang lalu pergi, kemudian datang hal lain yang menyita segenap pikirannya dan sesaat kemudian juga melintas pergi. Ia biarkan semua itu dan berusaha lebih memusatkan perhatiannya pada keluar masuknya nafas, demikian lembut dan merasuk ke segenap bagian tubuhnya. Nafas ini memberikan sebuah tenaga dan suatu kehidupan.

Demikian hal itu berlangsung cukup lama dan Swandaru tenggelam dalam semedi yang dalam. Suara-suara binatang malam sudah mulai menghilang meskipun suasana masih gelap. Tubuh Swandaru yang tegak tak bergeming bagaikan sebuah patung yang justru membuat binatang malam enggan mendekat ataupun hinggap ditubuhnya.

Ketika pagi hampir menjelang, tiba-tiba saja wajah Swandaru terlihat pucat, bibirnya bergetar dan tubuhnya menggigil hebat. Dengan cepat ia mengurai kedua tangannya tetapi gerak kakinya tidak terkontrol sehingga ia jatuh tertelungkup ke depan saat kakinya tidak mampu menopang tubuhnya.

“Wangi!!” Swandaru menjerit.


Salam,

BALADA SWANDARU GENI - Babak-1

Kulonuwun poro kadang sedoyo, khususipun kagem Ki Arema, nderek ijin posting sak cuil tulisan meniko, mugi kepareng… J

BALADA SWANDARU GENI
Banyak yang gemas, geregetan, marah dan bahkan benci kepada tokoh Swandaru Geni ini, bahkan ada yang minta dimatikan saja. Duhhh...tahukah cantrik mentrik sedoyo bahwa sesungguhnya jauh di lubuk hatinya, Swandaru memendam rasa sakit, perih, pedih...berperang dengan dirinya dan mengalami konflik batin yang hebat... Usai kalah berperang tanding dengan kakak seperguruannya Agung Sedayu, ia banyak mendesah, merintih dan berkeluh kesah atas segala kekurangannya... bagaimana ia bisa berdamai dengan dirinya sendiri, menerima keadaan apa adanya, memperbaiki diri…lalu… bisa melampaui dan mengalahkan saudara seperguruannya itu!!
Sebuah perjalanan harus dilalui…pembajaan diri menembus batas..… akankah ia merajut jalan damai atau justru malah jauh tersesat??
Tinimbang nganggur, menawi kerso sumonggo disimak... J
________________________________________________________________________________

Pembaringan itu serasa dingin meskipun dia sudah berbaring cukup lama. Sebaliknya hati Swandaru Geni justru hangat dan bahkan hampir menyala, terasa kobaran itu ikut membakar pikiran dan perasaannya.

Hatinya menggeram,  – “Bagaimana mungkin kakang Agung Sedayu punya kemampuan yang jauh dari jangkauan nalar? Apakah Guru sudah berlaku tidak adil dan menuntun kakang Agung Sedayu dengan lebih sungguh-sungguh dibandingkan aku?” –

Terbayang saat-saat pertama kali mereka berguru dan mendapat bimbingan dari Kiai Gringsing. Meskipun saat itu bekal dan kemampuan Agung Sedayu memang lebih banyak dan lebih tinggi darinya, tetapi tidaklah  terpaut banyak. Disungai kademangan Sangkal Putung itu Gurunya mulai melatih bahkan dari dasar-dasar kanuragan. Berloncatan dari batu ke batu – yang waktu itu terasa sulit karena tubuhnya yang gemuk - cara memukul dan menghindar, hingga menggunakan berbagai macam senjata.  Disadarinya bahwa kakak seperguruannya saat itu memang memiliki kelebihan dalam hal kecepatan dan kelincahan, sementara ia sendiri merasa bahwa tenaganya sangat besar dan jauh diatas tenaga Agung Sedayu.

Dengan bimbingan yang sungguh-sungguh dan berlatih yang keras, ia kemudian merasa sudah menyusul kemampuan kakak seperguruannya itu. Itulah saat mereka berdua menerima senjata khusus sebagai ciri perguruan mereka yang berupa sebuah Cambuk. 

“ Guru...”

Bibirnya mendesah, pelan-pelan ia mengangkat tubuhnya dari pembaringan dan dipaksakannya untuk berjalan keluar.

“ Kemana kakang? “, - sebuah suara halus tiba-tiba mengejutkannya.

“Oh...”, - dengan sedikit gelagapan Swandaru menjawab, - “Aku ke pakiwan sebentar Wangi, mungkin sambil duduk di halaman depan. Udara terasa panas”

Swandaru kemudian menarik nafas dalam-dalam, ia seolah baru tersadar bahwa Pandan Wangi tidur disampingnya sejak malam memasuki wayah sepi uwong tadi. 

Pandan Wangi tidak bertanya lebih lanjut, ia sadar bahwa dalam beberapa hari terakhir suaminya mengalami guncangan perasaan akibat beberapa peristiwa. Kesalahan anggapan dan kekalahan dalam perang tanding melawan Agung Sedayu agaknya masih sulit diterimanya. Sementara bagi Pandan Wangi sendiri hal tersebut seharusnya berdampak baik bagi suaminya agar melihat kenyataan yang selama ini tersembunyi. Justru Pandan Wangi berharap seharusnya Swandaru lebih memperhatikan orang-orang yang selama ini telah menjerumuskan ke dalam lingkungan yang tidak jelas dan mengakibatkan perang. 

Orang yang sering menawarkan kuda dan disebut Ki Ambara – yang ternyata adalah orang kepercayaan Ki Saba Lintang - itu telah menjerumuskan suaminya. 

Tiba-tiba dada Pandan Wangi berdesir, disamping Ki Ambara terbayang pula serauh wajah cantik dari seorang perempuan yang bernama Wiyati. Perempuan cantik yang tewas di ujung pedangnya itu telah menimbun segunung pertanyaan dan kecurigaannya atas hubungannya dengan suaminya. Apakah ketika pedangnya  menebas tubuh Wiyati sebenarnya wanita itu telah hamil akibat dari perbuatan suaminya? 

Ketidakpastian itu sudah lama membelenggu pikirannya, tetapi sifat Pandan Wangi yang senantiasa berusaha menjadi seorang istri yang baik mencegahnya untuk bertanya lebih lanjut dan mencari kejelasan kepada Swandaru.

“Ah...sudahlah, yang penting sekarang kakang Swandaru bisa lebih baik”,  ia mencoba menentramkan diri dan melanjutkan kegelisahannya dalam tidur.

Sementara itu setelah dari pakiwan Swandaru melangkah pelan-pelan menuju halaman depan. Udara menjelang pagi terasa sejuk dan membuatnya berdiri tegak sambil memandang langit yang sedikit berawan. 

“Tidak mungkin Guru berbuat tidak adil”, -  katanya dalam hati – “saat-saat terakhir Guru lebih banyak menghabiskan waktunya di padepokan Jati Anom. Jarak Sangkal Putung jauh lebih dekat di banding Menoreh, seharusnya justru aku lebih sering bisa bertemu Guru”

Selembar daun kering lepas dari tangkainya akibat tertiup angin dan jatuh dekat kakinya berdiri.

“Ketika merasa sudah lanjut usia dan fisiknya mulai lemah, Guru menyerahkan sebuah kitab atau rontal yang kemudian kami pelajari bersama-sama meskipun dengan bergantian,” – Swandaru melanjutkan angan-angannya – “Itu memang sebuah bentuk keadilan bagi kami sebagai murid-muridnya yang sudah mentas. Tetapi bagaimana bisa kakang Agung Sedayu kemudian menjulang seolah kemampuannya tidak bisa aku gapai sama sekali? Matanya mampu meledakkan bukit karang, tubuhnya mampu membelah tiga dengan kemampuan meringankan tubuh yang tak tertandingi, bahkan tenaga yang selama ini aku andalkan tidak berarti apa-apa di hadapan kakang Sedayu”

Sambil melangkah mendekati regol depan, mata Swandaru tertuju pohon jambu air yang belum lama di tanam. Sekali lagi ia menarik nafas dalam-dalam, pohon yang lama telah habis meranggas karena terbakar dan porak poranda akibat sebuah pertarungan.

“Sabungsari…”, - tiba-tiba bibir Swandaru berdesis pelan.

Ia teringat pada suatu malam dimana seluruh Kademangan tertidur lelap akibat sebaran sirep yag kuat. Serombongan orang berkemampuan linuwih menggempur rumahnya dan hampir-hampir membawa bencana buat seluruh keluarganya. Betapapun ia berjuang, tetapi ia kalah jumlah, apalagi semua yang datang malam itu adalah orang yang memiliki kemampuan sangat tinggi.

Di saat-saat kritis itulah sejumlah prajurit menerobos halaman dan ikut serta dalam perlawanan. Salah satunya adalah Sabungsari, prajurit muda yang juga sahabat dekat kakak seperguruannya. Meski Sabungsari harus terluka parah, tetapi mereka berhasil mengalahkan para penyerang malam itu.

“Setinggi apakah kemampuan Sabungsari itu sebenarnya” – Swandaru mendesah, - “ia mampu mengambil alih lawanku dan bahkan membunuhnya”

Rasa penasaran yang bercampur kegelisahan mendera hati Swandaru. Tubuhnya membungkuk mengambil sebuah batu sebesar dua kepalan tangan orang dewasa. Dipegangnya batu itu dengan tangan kiri dan dalam setengah tarikan nafas, tangan kanannya mengayun dengan cepat. Dalam sekejab batu itu sudah berubah bentuk, pecah berserakan.

“Hemmm…….”, - terdengar Swandaru mendesis.

Hatinya sedikit mengembang sebelum akhirnya menguncup lagi.

“Tetapi kakang Agung Sedayu mampu memecahkan batu karang tanpa menyentuhnya, bahkan apakah benar bahwa Sabungsari pun mampu melakukannya?”

Swandaru berjalan mendekati pohon jambu air yang masih belum tinggi itu. Di usapnya beberapa daun yang baru trubus itu sambil pikirannya terus berkelana.

“Apakah memang selama ini aku buta terhadap orang disekelilingku?”

Nafasnya tiba-tiba menjadi berat.



Salam,

BSG - BAB.V - AUP - Babak-16

BALADA SWANDARU GENI Bab V: Ajaran Untuk Pulang Babak – 16 Sebenarnyalah, malam hari itu menjadi sebuah malam yang tidak terlup...